Skip to content

” Kisah Agen misi untuk menghancurkan Islam “

Agustus 30, 2016

 

shariffa-carlo
Ini adalah kisah hidupku. Aku mempunyai rencana, organisasi yang mengirimku juga mempunyai rencana dan Allah merupakan sebaik-baik pembuat rencana. Saat remaja, aku sudah tertarik dengan kelompok yang berisi orang-orang yang membenci Islam. Mereka ini mayoritas bekerja di departemen pemerintahan negara dengan satu agenda spesial yakni menghancurkan Islam. Mereka memakai posisinya untuk mempengaruhi kebijakan negara Amerika terhadap semua yang ada hubungan dengan Islam.
Salah satu anggota dari kelompok ini mendekatiku. Dia lihat potensi serta semangatku, kemampuanku bicara di depan umum serta kepedulian untuk menyuarakan hak-hak wanita. Dia menyarankanku untuk mengambil kuliah juruan Jalinan Internasional bagian Timur Tengah. Sesudah lulus, dia menjamin saya segera dapat bekerja di Kedutaan Amerika di Mesir. Lelaki ini ingin saya memakai posisiku untuk mempengaruhi wanita Mesir supaya terjadi Gerakan Wanita Mesir yang menuntut hak-haknya.
Menurutku ini ide yang bagus. Saya lihat sendiri di TV, wanita Mesir dalam kondisi ditindas dan tertindas. Saya ingin menyelamatkan mereka dengan kebebasan menuju sinar kebebasan era 20.
Pergi dari niat ini, saya juga mendaftar kuliah serta memulai pendidikanku. Di perkualiahan, saya belajar Al Quran, hadits, serta sejarah Islam. Saya juga pelajari langkah memakai pengetahuan ini untuk merusak Islam. Saya juga mengasah kemampuanku untuk mengolah kata supaya seakan-akan merekalah (para wanita Mesir) yang mengatakannya. Lantaran sungguh, kalimat yaitu senjata yang begitu bernilai. Namun makin saya pelajari Islam, saya makin penasaran. Serta ini cukup membuatku takut. Untuk meredakan rasa takut ini, saya juga mengambil kelas Kekristenan.
Saya pilih kelas yang diajar oleh profesor dengan reputasi bagus serta memunyai gelar Ph. D. di bagian teologi dari Kampus Harvard. Saya terasa ada di tangan orang yang pas. Serta ya… saya memang ada di tangan orang yang pas, namun bukanlah seperti yang saya pikirkan. Nyatanya profesor ini yaitu penganut Kristen Unitarian. Dia tak yakin pada keyakinan trinitas terlebih pada ketuhanan Yesus. Sebaliknya, dia jadi yakin kalau Yesus itu yaitu seseorang Nabi.
…kata-kata adalah senjata yang sangat berharga. Tapi semakin aku mempelajari Islam, aku semakin penasaran. Dan ini cukup membuatku takut. Untuk meredakan rasa takut ini, aku pun mengambil kelas Kekristenan…
Dia membuktikan apa yang diyakininya ini dengan mengambil Bible dari sumbernya dalam bhs Yunani, Hebrew serta Aramaic. Dia juga tunjukkan di mana letak pergantian itu. Tak itu saja, dia juga tunjukkan bebrapa momen bersejarah yang menyebabkan terjadinya pergantian ini. Waktu perkuliahan selesai, saya tahu keyakinan lamaku sudah rusak. Namun, waktu yang sama saya masihlah belum siap untuk terima Islam.
Saat juga selalu jalan. Saya melanjutkan studi untuk diriku sendiri serta saat depanku sekitaran 3 th.. Sepanjang bebrapa saat ini, saya selalu mempertanyakan kepercayaan Islam ini pada Muslim yang kutemui. Salah satu Muslim itu yaitu lelaki anggota dari Asosiasi Pelajar Muslim. Alhamdulillah, dia lihat ketertarikanku pada Islam. Dia juga mengupayakan saat secara pribadi untuk mengajariku Islam. Di setiap peluang yang ada, dia selalu berdakwah padaku. Semoga Allah mengaruniakan pahala padanya.
Sehari, lelaki ini menghubungiku. Dia memberitahuku kalau ada sekumpulan Muslim yang datang mengunjungi kota tempat kami tinggal. Dia ingin saya bertemu dengan mereka. Saya juga sepakat. Kami berjumpa habis Isya di satu ruang yang diisi minimal 20 lelaki di dalamnya. Mereka menyambutku serta mempersilakanku untuk duduk. Di depan, saya bertemu dengan seorang lelaki Pakistan yang berumur cukup lanjut.
Masya Allah, ayah ini benar-benar menguasai materi Kristen dengan baik. Kami berdiskusi mengenai beragam hal baik dari Bible serta Quran sampai Subuh mendekati. Di titik berikut, dia lakukan suatu hal yang belum pernah dilakukan siapa juga sebelumnya. Dia mengundangku untuk masuk Islam.
Tiga th. saya mencari serta pelajari Islam, belum ada satu juga yang pernah mengundangku untuk masuk Islam. Saya diajari mengenai Islam, berargumen tentangnya bahkan mengejek agama ini namun tak pernah ada terlebih dulu orang yang mengundangku untuk masuk Islam. Jadi saat ayah ini mengundangku, rasa-rasanya seperti gayung bersambut. Semua tampak masuk akal. Saya tahu kalau berikut saatnya. Saya juga tahu kalau berikut kebenaran jadi saya mesti membuat ketentuan.
Alhamdulillah, Allah buka hatiku hingga saya juga berkata, “Ya, saya ingin jadi Muslim. ”
Waktu itu juga, ayah ini membimbingku mengucap kalimat syahadat baik dalam bhs Inggris ataupun dalam bhs Arab. Saya bersumpah untuk Allah, waktu mengucap syahadat itu ada sensasi aneh yang kurasakan. Rasa-rasanya beban yang begitu berat serta besar di dada ini terangkat. Saya juga menarik napas panjang seakan baru pertama kali itu saya dapat bernapas.
Alhamdulillah Allah memberiku hidup yang baru, bersih, serta peluang untuk masuk jannah. Saya berdoa supaya seumur hidupku sampai akhir kelak saya juga mati dalam keadaan sebagai seorang Muslim. Aamiin.

Sumber : VOA-Islam & KhasanahInfo

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: