Skip to content

MURTAD KARENA CINTA

April 4, 2014

Ditulis oleh : Annisa Cahaya Hati

 

1977082_452919921509377_1226160647_n

 

 

MURTAD KARENA CINTA
Murtad karena cinta, ku dengar kisah itu
terulang lagi di negeriku, kali ini menimpa
seorang artis -semoga Allah mengembalikannya
pada fitrah Islam-. Namun hal itu tidak
membuatku heran, karena dulu ada insan yang
jauh lebih sholeh darinya juga murtad karena
cinta.
Dalam kitab “At-Tadzkirah”, Imam Qurthubi
menceritakan kisah tentang seorang muadzin
yang murtad karena cinta.
Beliau mengatakan: Dulu di Mesir ada seorang
hamba yang mengabdikan dirinya untuk
mengumandangkan adzan, raut wajahnya selalu
memancarkan cahaya ketaatan. Suatu hari
seperti biasanya ia menaiki menara untuk
mengumandangkan adzan. Kebetulan tepat di
bawah menara tersebut terdapat rumah seorang
Nashrani dzimmi. Ia pun melihat ke rumah
tersebut, tanpa sengaja ia melihat puteri pemilik
rumah tersebut. Ia terpesona kepadanya, iapun
mengurunkan niatnya untuk mengumandangkan
adzan. Tanpa piker panjang la turun menemui
wanita tersebut dan masuk ke rumahnya.
Wanita itu bertanya kepadanya: “Ada urusan
apa engkau ke sini, apa yang kau inginkan.?”.
Ia menjawab: “Aku menginginkanmu”. Wanita
itu bertanya lagi: “Untuk apa?”.
Ia menjawab: “Engkau telah merampas hatiku
dan segenap jiwaku”.
Wanita itu berkata: “Aku tidak ingin memenuhi
keinginginanmu itu ditas sebuah keraguan
(tanpa status)”.
Ia menjawab: “Aku ingin menikahimu”.
Wanita itu menjawab: “Bagaimana mungkin,
kamu seorang muslim sedangkan aku seorang
Nashrani. Ayahku pasti tidak akan mau
menikahkanku denganmu”.
Ia pun berkata: “Aku akan masuk agama
Nashrani”.
Wanita itu berkata: “Jika engkau melakukan hal
itu, maka aku siap menikah denganmu”.
Maka kemudian ia pun memeluk agama
Nashrani dan menikah dengan wanita itu dan
tinggal bersama mereka di rumah itu.
Di pertengahan hari, ia naik ke atas atap rumah
itu, lalu terjatuh dan meninggal. Akhirny ia
meninggal tidak dalam keadaan muslim, tidak
juga ia dapat tinggal bersama wanita tersebut
untuk sesaat.
Kisah diatas menegesakan pada kita untuk
tidak mudah tertipu dengan pemaknaan semu
soal cinta, kecantikan, atau pemaknaan lain
tentang ikatan kasih yang keliru hingga
melampaui batas-batas yang telah di atur
didalam agama kita yang mulia.
Kisah itu juga mengajari kita untuk tidak tertipu
atau bangga dengan amal sholeh yang sudah
kita lakukan. Sebab kita tidak tau pasti dengan
apa Allah akan menutup cerita tentang kita.
Rsul pernh bersbd: “Hati manusia berada
diantara dua jemari Allah. Dia membolak-balika
nnya dengan kehendak-Nya”. Tk hern bil dalam
sujudnya Rasulullah shallahu alaihi wasallam
selalu berdo’a ”
” ﻳﺎ ﻣﻘﻠِّﺐ ﺍﻟﻘﻠﻮﺏ ﺛَﺒِّﺖ ﻗﻠﺒﻲ ﻋﻠﻰ ﺩﻳﻨﻚ ”
“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati,
Tetapkanlah hatiku diatas agama-Mu”
Kita perlu menjadikan do’a tersebut bagian dari
munajat kita pada Allah. Apalagi dizaman fitnah
saat ini, semua berubah dengan cepat.
Sebagaimana tergambar dalam hadits Nabi
shallallahu ‘alaihi wasallam, “Bersegeralah
beramal sebelum datangnya rangkaian fitnah
seperti sepenggalan malam yang gelap gulita,
seorang laki-laki di waktu pagi mukmin dan di
waktu sore telah kafir, dan di waktu sore
beriman dan pagi menjadi kafir, ia menjual
agamanya dengan kesenangan dunia.” (HR.
Ahmad No. 8493)
Sungguh benar apa yang diberitakan Rasulullah
-shallahu alaihi wasallam-, hari ini dengan
mudah kita melihat orang-orang yang di pagi
harinya masih beriman, namun karena
kepentingan duniawi dan kenikmatan sesaat,
tiba-tiba di waktu sore ia telah menjadi kafir.
Demikian pula ada diantara mereka yang di sore
harinya masih beriman, namun entah apa yang
terjadi di malam hari, hingga tiba-tiba kita
mendapatinya telah menjadi kafir dipagi hari.
Semoga Allah mengarunikan pada kita Khusnul
Khtimah.
Ya Allah.. Tetapkn hati kami dalam Iman.

2 Komentar leave one →
  1. Juli 15, 2014 4:40 am

    Ini adalah email pertanyaan melalui http://www.isadanislam.com/ dari:
    laksono

    Kalau membahas perbedaan antara Injil dan AlQuran itu sulit ketemunya, maka ini aja ada persamaan
    Pengertian ini jarang dimengerti oleh para penceramah selama ini, bahwa 1 hari akherat = 1000 tahun dunia….. hal ini ada dalam beberapa ( hampir 10 ) surat dalam AlQura’an dan ada 1 atau 2 di dalam AlKitab Injil
    1. Waktu antar alam dunia dan alam akhirat berbeda , 1 hari akherat : 1000 tahun bumi, Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada Nya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu ( As Sajdah 32:5). Ada lebih dari 10 surat dalam Al Qur’an yang menerangkan dan termasuk juga ada dalam AlKitab
    Alkitab : [2 Petrus 3 : 8] Akan tetapi, …, yang satu ini tidak boleh kamu lupakan, yaitu, bahwa di hadapan Tuhan satu hari sama seperti seribu tahun ….
    Berdasarkan hadis diperkirakan dunia sudah dalam tahap tahap akhir +/- 250 tahun ( kurang dari waktu kita dijajah Belanda 350 tahun ) ,Umur manusia relatif paling rendah dibanding umur Jin maupun Malaikat , dimana manusia saat ini di dunia rata rata kurang dari 0,1 hari akhirat.

    selamat malam saudara Laksono, Anna

    Senang bisa kenal saudara Laksono dalam diskusi lewat email. Bagaimana kabar saudara? Baik,bukan? Maaf jika kami baru membalas email saudara karena ada sedikit kesibukan.
    Kami memahami pernyataan saudara Laksono, dalam Kitab Nabi saudara dan Kitab Allah menyataan perhitungan yang sama bahwa satu hari sama dengan seribu tahun bagi Tuhan. Hal ini menunjukkan bahwa Tuhan itu dalam keberadaan-Nya tidak dapat dibatasi oleh waktu maupun proses-proses alamiah, Tuhan itu melampaui waktu karena Dialah yang menciptakan waktu.
    Saudara Laksono, hari-hari dalam ukuran Allah yang tidak dapat diukur dengan ukuran manusia. Karena Tuhan adalah Allah yang kekal tidak terikat oleh waktu sedangkan manusia bersifat fana, hidupnya singkat seperti rumput. Kitab Allah menuliskan; “Adapun manusia, hari-harinya seperti rumput, seperti bunga di padang demikianlah ia berbunga” (Kitab, Zabur 103:16). Jelas ayat ini menyatakan bahwa waktu Allah tidak sama dengan waktu manusia bukan?
    Saudara Laksono, mari kita baca ayat suci ini. “Akan tetapi, saudara-saudaraku yang kekasih, yang satu ini tidak boleh kamu lupakan, yaitu, bahwa di hadapan Tuhan satu hari sama seperti seribu tahun dan seribu tahun sama seperti satu hari” (Kitab, Surat 2 Petrus 3:8-9) Ayat ini tidak hanya menyatakan betapa singkat dan rapuhnya hidup di dunia ini, namun hidup manusia di duni ini bergantung pada Allah yang kekal serta tidak ingin manusia binasa karena dosa. Bukankah, manusia ingin diselamatkan dan dibenarkan pada hari kedatangan-Nya?
    Bagaimana menurut saudara Laksono, perkataan siapa yang saudara percaya memberikan kesejahteraan bagi saudara di dunia dan di akhirat?
    “Isa bersabda: “Akulah jalan & kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Injil, Rasul Besar Yohanes 14:6).

    Demikianlah tanggapan yang dapat kami sampaikan, kiranya menolong saudara Laksono. Dalam kesempatan ini kami juga melampirkan traktat 5 Langkah Keselamatan dengan membaca dan merenungkan isi dari taraktat kami harap saudara Laksono memahami hidup kekal dalam Isa Al-Masih.
    Wassalam
    Anna
    Staf, Isa dan Islam

    terima kasih atas tanggapannya, saya disini cuma mencari kesamaan nya antara al Kitab dengan Al qur’an…. dengan adanya kesamaan tersebut bisa diartikan bahwa kedua kitab tersebut sumbernya adalah sama, karena kalau membahas perbedaan antara Injil dan AlQuran dari sisi yang lain itu sulit ketemunya ( pengalaman saya ) , maka ini aja … ada persamaan tentang hari didunia vs hari di akherat nanti ( bukan hari Tuhan seperti yang anda maksud ), saya sepaham dengan saudara “Allah yang kekal tidak terikat oleh waktu sedangkan manusia bersifat fana ” . jadi yang saya maksud itu perbedaan waktu manusia /makhluk saat di dunia vs saat di akherat nanti
    Pengertian ini jarang dimengerti oleh para penceramah selama ini, bahwa kesetaraan waktu 1 hari akherat = 1000 tahun dunia….. hal ini ada dalam beberapa ( hampir 10 ) surat dalam AlQura’an dan ada 1 atau 2 di dalam AlKitab Injil makanya diandaikan hidup di dunia ini hanya diandaikan “mampir ngombe”.
    umur manusia saat ini hanya/cuma berkisar 100 tahun sedangkan Jin hanya berkisar 500 Tahun ( se siang hari )
    [Al Ahqaaf 46:35] … mereka melihat azab yang diancamkan kepada mereka (merasa) seolah-olah tidak tinggal (di dunia) melainkan sesaat pada siang hari…….. ,jadii kalau berdasar Al Ahqaaf ini maka diperkirakan rata rata umur Jin 500 tahunan

    terima kasih atas tanggapannya , saya persilahkan kalau masih ada yang didiskusikan belum jelas

    Alkitab : [2 Petrus 3 : 8] Akan tetapi, …, yang satu ini tidak boleh kamu lupakan, yaitu, bahwa di hadapan Tuhan satu hari sama seperti seribu tahun ….

  2. Juli 16, 2014 5:43 am

    Kok berani ya murtad karena cinta, simak deh nasehat berikut
    http://quantumfiqih.wordpress.com/2013/07/09/dunia-tidak-ada-apa-apanya/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: