Skip to content

JADIKANLAH AL QUR’AN & SUNNAH SEBAGAI PEGANGAN HIDUP

Maret 19, 2014

Ditulis oleh : Sang Penghibur

Imaan

Beda Sunnah & Hadits

Orang sering menyamakan antara hadits dan sunnah,padahal 2 hal
ini berbeda.

Nabi bersabda : ”Aku tinggalkan diantara kalian 2 perkara yang kamu tidak sesat selama berpegang pada keduanya: Kitab suci dan sunnah Rasul-Nya”.

Jadi yang disebut di atas bukan hadits yang jadi pegangan hidup tapi sunnah,lalu apa bedanya?

1. Sunnah
Pengertian sunnah lebih luas dari hadits termasuk hadits yang
shahih sekalipun.Sunnah adalah segala tindakan dan contoh yang
dilakukan Nabi dalam menerjemahkan ayat Al Qur’an dalam menghadapi
kasus-kasus ketika di masa hidup beliau dan ini jauh lebih akurat dipelajari dari kitab tentang sejarah biografi Nabi Muhammad seperti yang telah ditulis oleh Ibnu Ishaq (wafat 151
H) yang kemudian disunting oleh Ibnu Hisyam (wafat 219 H).
Tapi tentu saja kita tidak bisa mencontoh tindakan Nabi ini bulat-bulat tanpa memahami konteks kejadiannya waktu itu,untuk itulah memahami teladan Nabi juga harus paham sejarah,budaya arab masa itu,bahasa arab,dan proses penerjemahan bahasa arab ke indonesia.
Akan banyak keanehan kalo kita meniru bulat-bulat sunnah Nabi
tanpa memahami prinsip besarnya,kalo memang harus niru bulat-bulat kenapa tidak sekalian aja kita naik onta saja daripada mobil,kan mobil buatan orang non muslim kan???

2. Hadits
Pengertian hadits kebanyakan ditujukan pada kitab hadits yang
ditulis oleh Al Bukhari dan Muslim yang kadang juga merujuk ke kitab-kitab koleksi Ibnu Majah,Abu Dawud,Al Turmudzi dan Al Nasa’i,dll.Pembukuan hadits baru dimulai di awal abad ke-2
Hijriah hingga pertengahan abad ke-3 Hijriah.
AL Bukhari membukukan hadits dengan metode yang dibuat oleh
Imam Syafii.Jarak penulisan yang panjang dari masa hidup Nabi
inilah yang membuat banyak kontroversi dalam isi hadits,tapi bukan berarti kita lantas tidak mempercayai 100% sebuah hadits,tapi alangkah lebih baiknya kita merujuk ke Al Qur’an dulu jika ada hadits yang kontroversial, apakah sesuai dengan semangat
dasar Al Qur’an. Bahkan sampai sekarang pun kita tetap perlu meneliti hadits-hadits Nabi tersebut dengan metode yang bisa jadi lebih canggih daripada Al Bukhari dan ulama lain dengan sumber-sumber yang lebih lengkap karena perkembangan teknologi
dan ilmu pengetahuan.

(Disarikan dan ditulis kembali dengan harapan agar lebih mudah dipahami dari artikel Cak Nur berjudul : “Pergeseran Pengertian Sunnah ke Hadits: Implikasinya dalam Pengembangan Syari’ah”)
===============================

Pengertian Hadits, Sunnah, Khabar, Atsar dan Perbedannya

A.    Terminologi Hadis Nabawi
Ada beberapa istilah yang perlu diketahui yaitu hadis, sunnah, atsar, dan khabar. Jumhur ulama menyamakan arti hadis dan sunnah, atau dengan kata lain keduanya merupakan kata sinonim (muradif). Hanya saja istilah hadis lebih sering digunakan oleh ulama hadis. Sedangkan ulama ushul fiqh lebih banyak menggunakan istilah sunnah. Nabi sendiri menamakan ucapannya dengan sebutan al-hadis untuk membedakan antara ucapan yang berasal dari beliau sendiri dengan yang lain. Berikut ini uraian dari beberapa istilah di atas:
1.      Hadis
Kata hadis secara etimologi (bahasa) berarti al-jadid (baru, antonim kata qadim), al-khabar yang berarti berita dan al-Qarib (dekat).
Sedangkan secara terminologi hadis adalah segala ucapan, perbuatan, ketetapan dan karakter Muhammad Saw setelah beliau diangkat menjadi Nabi.
2.      Sunnah
Sunnah secara etimologi adalah perbuatan atau perjalanan yang pernah dilalui baik yang tercela maupun yang terpuji. Sedangkan secara terminologi sunnah mempunyai pengertian yang berbeda-beda, karena ulama memberikan pengertian sesuai dengan disiplin ilmu masing-masing.
a.         Menurut ulama ahli hadis, sunnah adalah semua hal yang berasal dari Nabi, baik perkataan, perbuatan, ketetapan, maupun hal-hal yang lainya. Menurut pengertian ini sunnah bisa meliputi fisik maupun perilaku Nabi dalam kehidupan sehari-hari baik sebelum ataupun sesudah beliau diangkat menjadi Rasul. Mereka memandang Nabi adalah sosok suri tauladan yang sempurna bagi umat Islam, sehingga dalam pandangan mereka segala sesuatu yang berasal dari Nabi; baik yang ada kaitanya dengan hukum maupun tidak adalah sunnah.
b.        Ulama usul fiqh memberikan definisi yang hampir sama, namun mereka membatasi sunnah hanya dengan yang bisa dijadikan acuan pengambilan hukum. Hal ini disebabkan mereka memandang Nabi sebagai syari’ (pembuat syariat) di samping Allah. Hanya saja ketika ulama usul mengucapkan hadis secara mutlak maka yang dimaksud adalah sunnah qawliyah. Karena menurut mereka sunnah memiliki arti yang lebih luas dari hadis, yaitu mencakup semua hal yang bisa dijadikan petunjuk hukum. bukan sebatas ucapan saja.
c.         Ulama fiqh mendefinisikan sunnah dengan suatu hal mendapatkan pahala bila dikerjakan namun tidak sampai mendapatkan dosa bila ditinggalkan. Mereka memandang Nabi saw sebagai pribadi yang seluruh perkataan dan perbuatannya mengandung hukum syara’.

3.      Khabar dan Atsar
Pengertian khabar dan atsar menurut ulama hadis adalah sama dengan hadis. Namun sebagian ulama berpendapat bahwasannya sesuatu yang berasal dari Nabi adalah hadis. Sedangkan yang berasal dari selain Nabi disebut khabar. Para fuqaha Khurasan menyebut hadis mawquf dengan khabar dan hadis maqthu‘ dengan atsar.
Menurut arti bahasa khabar ialah berita. Jadi, khabar memiliki arti yang hampir sama dengan hadis, karena tahdits (pembicaraan) artinya tidak lain adalah ikhbar (pemberitaan). Secara terminologi khabar  ada beberapa pendapat, di antaranya “hadis yang disandarkan pada sahabat”, atau “segala berita yang diterima dari selain dari Nabi”. Untuk terminologi khabar, peneliti lebih sepakat dengan definisi yang pertama – sebagaimana juga dikemukakan oleh ulama Khurasan- yaitu khabar ialah hadis yang disandarkan pada sahabat (mawquf). Hal ini dimaksud untuk memudahkan klasifikasi serta untuk membedakan antara khabar dengan hadis atau sunnah.
Secara etimologi atsar berarti bekas atau sisa. Sedangkan secara terminologi ada 2 pendapat; (1). Atsar sinonim dengan hadis (2). Atsar adalah perkataan, tindakan, dan ketetapan sahabat. Pendapat yang kedua ini mungkin berdasarkan arti etimologisnya. Dengan penjelasan, perkataan sahabat merupakan sisa dari sabda Nabi. Oleh karena itu, perkataan sahabat  disebut dengan atsar merupakan hal yang wajar.
Dari paparan tentang definisi hadis, sunnah, khabar dan atsar di atas, dapat dilihat bahwa ada perbedaan terminologi yang digunakan oleh muhadditsin terkait ruang lingkup dan sumber ke empat definisi tersebut. Hadis atau sunnah memberikan pengertian bahwa rawi mengutip hadis yang disandarkan kepada Rasulullah Saw (marfu‘). Sedangkan khabar tidak hanya mencakup hadis marfu‘ saja tetapi juga mengakomodasi hadis mawquf (rawi hanya bersumber dari sahabat saja tidak sampai pada Rasulullah). Bahkan juga yang hanya berhenti sampai tingkatan tabi‘in (maqtu‘) saja. Sedangkan atsar oleh para muhadditsin lebih diidentikkan hanya pada hadis mawquf atau maqtu‘ saja.
Untuk memudahkan pengidentifikasian hadis, maka akan lebih mudah apabila istilah hadis, sunnah, khabar dan atsar dibedakan dalam pendefinisiannya. Hal ini dilakukan bukan untuk mendistorsi makna dari istilah tersebut, tetapi lebih dimaksudkan untuk memudahkan identifikasi. Selain itu, diharapkan akan lebih mempermudah dalam memahami struktur hadis. Sehingga menurut hemat peneliti, hadis dan sunnah dipergunakan adalah untuk hadis marfu‘, khabar untuk hadis mawquf, dan atsar untuk hadis maqthu‘.

Diambil Dari
Tadjab dkk. 1994. Dimensi-Dimensi Studi Islam. Surabaya: Karya Abditama. Hlm. 130. Ulama yang membedakan pengertian hadis dan sunnah antara lain Ibn Taymiyah beliau mengatakan hadis adalah segala sesuatu yang berasal dari Nabi pasca pengangkatan Nabi, sedangkan sunnah lebih luas yaitu sebelum dan sesudah beliau diangkat jadi Rasul
Sebagaimana keterangan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah di dalam Shahih al-Bukhari bab Riqa’ yang isinya menyatakan bahwa apa yang diucapkan oleh Nabi dinamakan hadis.

UTAMAKAN AL-QUR’AN DAN SUNNAH MAKA KAMU TIDAK TERSESAT

One Comment leave one →
  1. Juni 16, 2016 9:58 am

    boleh saya share akhi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: