Skip to content

Sekilas catatan seorang calon muallaf.

Februari 7, 2014

Diceritakan oleh : Alazifi Mistery

 

Natural

 

Menarik sekali catatan seorang tmnku kristian JUDY HUSIN berikut ini.

Jadi Apa yang Kamu Percaya
Sebagai Orang Kristen?

Suatu hari saya sedang berbincang-
bincang dengan teman saya.
Pembicaraan kami menjurus ke arah
mujizat dan orang-orang yang katanya punya kemampuan
menyembuhkan termasuk di dalam lingkungan Gereja.Teman saya
percaya dengan adanya kesembuhan-kesembuhan ilahi.Tapi
saya menjelaskan kepadanya
tentang trik-trik bagaimana
melakukan penyembuhan ilahi itu yang sebenarnya hanya tipuan.
Teman saya mendengarkan dengan
seksama,dan saya dengan
semangat menjelaskan trik-trik
tersebut yang banyak dilakukan
oleh para pendeta,meskipun pendeta tersebut tidak menyadarinya.Lalu,kemudian
teman saya menyeletuk :

“Judy,jadi apa yang kamu percaya
sebagai orang Kristen? Bukannya
penyembuhan ajaib itu terdapat di
Alkitab? Bukannya Yesus juga
melakukan banyak mujizat?”

Teman saya menganggap sebagai
orang Kristen saya seringkali
menentang kekristenan itu sendiri.
Saya seperti tidak percaya Tuhan,
Alkitab apalagi percaya mujizat
termasuk kesembuhan ilahi.Tapi disinilah saya berkesempatan
menjelaskan kepada teman saya apa
perbedaannya kesembuhan ilahi
dan mujizat yang tercatat di dalam
Alkitab dengan yang dilakukan oleh
banyak Gereja sekarang ini.Keduanya sangat bertentangan.Saya
menjelaskan dengan panjang lebar
dan juga menjelaskan akibat-akibat
dari kesembuhan ilahi palsu yang
dilakukan oleh banyak Gereja.

Tuduhan sesat,tidak percaya
mujizat, tidak percaya Tuhan,orang
Kristen duniawi,suka menghakimi,
sok rohani,dll sudah sering saya
dapatkan.Ini dimulai justru ketika
saya mulai serius untuk belajar Alkitab dan mencari kebenaran.

Dahulu,ketika saya masih Kristen
yang biasa-biasa saja, semuanya
aman.Kebutuhan terpenuhi,tidak
ada yang mengatakan ejekan di atas.
Saya disukai banyak orang.Hidup
saya nyaman.Tapi sejak saya mulai ingin sungguh-sungguh mengenal
kebenaran,hidup saya berubah.
Banyak hal yang tidak
menyenangkan harus saya jalani,
tapi saya bertahan dan terus maju
sampai hari ini.

Saya teringat di awal saya
menginjakkan kaki di Jakarta.Enam
bulan pertama,saya sama sekali
tidak pernah ke Gereja. Dikampung
halaman saya,saya cukup rajin ke
Gereja,meskipun hanya sekedar rutinitas ditambah sedikit
“pelayanan”. Ketika saya
menghubungi orangtua saya,
mereka bercerita Gereja saya dulu,
sekarang sudah bangkrut.Gembala
sidangnya korupsi.Banyak jemaatnya yang pindah Gereja,
termasuk orangtua sayapun pindah
Gereja.

Enam bulan sendirian di kota Jakarta,
saya mulai merasa sepi.Ada sesuatu
yang kosong dalam diri saya.
Meskipun saya memiliki banyak
teman,tapi saya tetap merasa ada
sesuatu yang hilang.Saat itulah,di siang hari,di kamar kos saya,
sayapun berlutut dan berkata
kepada Tuhan :

“Tuhan,aku rindu GerejaMu,tapi aku
mau Gereja yang mengajarkan
kebenaran bukan kepalsuan.
Gerejaku yang dahulu sudah hancur,
karena pendetanya yang tidak
benar.Aku mau kebenaran.Bawalah Aku ke rumahMu Tuhan.”

Kurang lebih seperti itulah yang saya
katakan saat itu karena saya sudah
tidak dapat mengingatnya dengan
jelas lagi.Selesai mengatakan hal itu,
hati saya merasa tenang,dan saya
tahu Tuhan menjawabnya.Tapi jawaban tersebut saya terima enam
bulan berikutnya.

Itulah pertama kalinya saya rindu
dengan kebenaran.Kehidupan saya
selanjutnya tetap berjalan biasa saja,
dan enam bulan kemudian saya baru
di ajak seorang teman ke sebuah
Gereja.Saat itu saya tidak punya Alkitab,teman saya memberikan
Alkitabnya kepada saya, sebuah
Alkitab yang sudah lusuh, mungkin
karena sering di baca.

Pertama kali pulang dari Gereja
tersebut di kendaraan umum yang
kami tumpangi,teman saya bertanya
“Bagaimana kotbahnya menurut
kamu?” Saya sedikit terkejut ditanya
seperti itu dan sebagai seorang kristen yang belum tahu apa-apa,
saya hanya bisa menjawab
“Lumayanlah”.Teman saya
tersenyum saja mendengar jawaban
itu.

Kedepannya,pendeta Gereja inilah
yang pertama kali mengajarkan saya
untuk mengenal kebenaran dengan
sungguh-sungguh,hingga akhirnya
saya di babtis di Gereja tersebut,
meskipun saat ini saya sudah tidak pernah lagi berGereja di Gereja
tersebut.

Anda tahu,mengenal kebenaran itu
berbeda dengan beragama. Percaya
Tuhan itu berbeda dengan
mempercayakan diri kepada Tuhan.
Saya pernah pergi ke berbagai
Gereja,dari bermacam denominasi.Semuanya merasa diri paling benar.
Tidak jarang mereka mengatakan
ajaran yang diluar ajaran mereka itu
adalah salah.

Saya pernah datang ke Gereja yang pendetanya bisa mengocok perut
anda,saya juga pernah datang ke
Gereja yang tampak begitu serius
berkotbah,saya juga pernah datang
ke Gereja dengan tata ibadah yang begitu kaku,saya juga pernah
datang ke Gereja dengan musik
yang hingar bingar dan
memekakkan telinga.Semuanya
merasa paling benar.

Kalau semuanya benar,mengapa
ada perbedaan dalam
pengajarannya,mengapa ada
perbedaan dalam tata ibadahnya,
mengapa ada perbedaan dalam
musiknya? Ada yang menjawab,”Yang penting semuanya
memberitakan tentang Yesus
sebagai Tuhan dan Juru Selamat.”
“Yang penting kita merasa
bertumbuh di Gereja tersebut.”
Begitukah?

Saya tidak tahu mengapa saya jadi
sering pergi ke berbagai macam
Gereja,tapi dari situ jugalah saya
mulai mengenal apa itu yang benar
dan apa itu yang salah.Saya sering
mendengar seseorang dari jemaat Gereja tertentu menjelekkan pendeta Gereja lainnya,padahal dia tidak tahu apa-apa.Saya sendiri pernah mengalami,ketika mengatakan akan pergi ke Gereja A, teman saya mengatakan “Disanakan pendetanya ga beres,suka korupsi.”Saya bertanya kembali kepada dia”Darimana kamu tahu, apa kamu pernah datang ke Gerejanya?” Dia menjawab,”Belum pernah sih keGerejanya,tapi teman-teman saya yang bilang.Jadi kalau udah tahu pendetanya ga beres, buat apa kesana?”

Seperti itu bukan,ketika anda
mengatakan Gereja ini tidak beres,
pendetanya tidak beres,ajarannya
tidak beres? Anda hanya mendengarnya dari teman-teman
anda,yang mungkin juga mendengarnya dari teman-
temannya yang lain dan teman-
temannya yang lain juga mendengarnya dari teman-
temannya yang lain lagi.

Kalau seperti itu jawaban anda,
bukan Gerejanya,Pendetanya atau
Ajarannya yang tidak beres, tapi
andalah yang tidak beres. Inilah
yang saya sebut suka menghakimi,
menuduh tidak ada dasar.

Saya sudah ke banyak Gereja, sudah
mendengar bermacam ajaran.Itu
sebabnya saya bisa membedakannya.Tapi yang paling awal membuat saya menilai suatu ajaran itu benar atau salah adalah Alkitab.Pendeta dimana saya pertama kali bergereja saat diJakarta,mengajarkan untuk
“kembali ke Alkitab”.Disinilah saya
ketika sudah mendengar berbagai macam ajaran,dan semua merasa paling benar,saya kembali ke Alkitab.

Perlahan tapi pasti,saya mulai membaca Alkitab dengan lebih
serius untuk mencari kebenaran.
Banyak hal belum bisa saya pahami
saat itu. Karena kerinduan saya
untuk belajar ini,saya pernah bertanya kepada seorang hamba
Tuhan,teman saya. Saat itu ia masih
penginjil,dan sekarang sudah
menjadi pendeta yang cukup
dikenal.”Bisakah saya sekolah
teologi,saya hanya ingin belajar, tidak perlu diberi gelar apapun, saya
juga tidak tergerak untuk jadi
pendeta,saya hanya ingin belajar
kebenaran.”Sayangnya ia menjawab
harus ada panggilan Tuhan untuk
bisa sekolah teologi.

Pada akhirnya,saya hanya bisa
membaca Alkitab yang isinya banyak
tidak saya mengerti. Saya hanya
terus membacanya,meskipun tidak
rutin.Dan seiring berjalannya waktu,
ketika membaca ulang Alkitab, saya menyadari saya mulai mengerti dan
memahami isinya. Lalu, saya pun
mulai menemukan banyak hal yang
berbeda dengan ajaran-ajaran yang
saya terima dari Gereja, dan ini
membuat konflik dalam diri saya.

Satu kali, saya merasa begitu lelah
dengan pikiran saya sendiri, saya
berbaring di tempat tidur dan
menatap langit-langit atap rumah.
Dalam diri saya muncul kebingungan
dan pertanyaan “Tuhan, mengapa apa yang saya baca di Alkitab,
seringkali ada perbedaan dengan
ajaran Gereja yang sudah saya
terima. Jadi mana yang benar,
apakah saya yang salah memahami
atau memang ajaran Gereja itu yang salah?”. Dari pertanyaan seperti
inilah muncul jawaban sekaligus
pertanyaan baru buat saya maupun
buat anda :

“Pada saat kamu membaca Alkitab,
dan kamu menemukan ternyata apa
yang dituliskan di Alkitab berbeda
dengan ajaran yang selama ini kamu
terima, mana yang akan kamu pilih?
Alkitab sebagai firman Tuhan ataukah ajaran yang sudah
bertahun-tahun berdiam dalam
dirimu?”

Saya mengerti, sebagai seorang yang
percaya Yesus, yang mempercayai
Alkitab sebagai kebenaran,
bukankah seharusnya Alkitab yang
menjadi standar ukuran sebuah
kebenaran?

Saya seringkali menemukan orang-
orang yang sekalipun mengakui
Alkitab sebagai standar kebenaran,
tapi ketika ditunjukkan ayat yang
berbeda pemahamannya dengan
pemahaman dia selama ini, orang tersebut dengan berbagai alasan
manis akan berusaha membela
ajarannya, pendetanya dan
Gerejanya. Dia akan mencari
alasan :”Tanya dulu ke pendeta.”,
“Itu bagiannya pendeta yang sudah sekolah teologi”, dll. Kalaupun
mereka menyadari kesalahannya,
mereka tetap akan membela diri
dengan mengatakan “Itu urusan
Tuhan, kalau pendeta itu salah, biar
Tuhan yang menghukumnya, kita tidak berhak menghakimi.”

Setelah saya mengetahui kebenaran
seperti ini, Alkitablah yang menjadi
andalan saya. Saya mulai bisa melihat
banyaknya ajaran-ajaran yang
selama ini kita percaya, sebenarnya
banyak yang bertentangan dengan Alkitab. Saya tidak mengatakan
bahwa semua ajaran Gereja itu salah,
tapi ada kalanya ketika kita
membaca Alkitab, ternyata
menemukan bahwa apa yang
tercatat di Alkitab dengan yang selama ini kita percaya adalah
berbeda. Jangan merasa anda yang
salah tafsir Alkitab, tapi cobalah
membacanya berulang kali agar
anda memahaminya. Silakan saja
tanyakan pada pendeta anda, tapi jelaskan kepadanya apa yang anda
temukan, dan jangan langsung
percaya dengan penjelasan pendeta
anda, tapi uji kembali dengan Alkitab
sebagai standar kebenaran.

Saya belum berani menunjukkan diri
saat itu. Bukan hanya karena saya
takut dianggap berbeda atau sesat,
tapi masih terlalu sedikit yang saya
pahami dari Alkitab. Saya masih
terlalu bodoh, itu sebabnya sampai saat inipun saya masih terus belajar
dari Alkitab.

Masih ada beberapa kejadian lain
yang saya alami yang kemudian
menguatkan saya untuk mulai
menulis tentang kekristenan dan
mulai berani menyatakan kesalahan.

Suatu kali saya diundang oleh teman
saya untuk menghadiri KKR Natal
Gerejanya. Saat itu acar diadakan di
Gelora Bung Karno. Saya hadir
disana bersama dengan adik saya.
Luar biasa sekali, Gelora Bung Karno penuh sekali, bahkan sampai ke
tengah lapangan. Saya pun pindah
ke tengah lapangan. Ketika ibadah
dimulai, musik begitu keras
dimainkan, tapi saya masih bisa
menikmatinya, sampai akhirnya kotbah disampaikan. Saya tertegun
mendengar kotbahnya. Bukan
karena kotbahnya yang bagus, tapi
karena menurut saya tidak ada
isinya sama sekali. Pendeta itu hanya
sibuk bercerita pengalamannya pulang-pergi ke surga. Sama sekali
tidak ada pengajaran Alkitab,
meskipun sempat dibacakan
beberapa ayat.

Tiba-tiba saja saya merasa sedih,
saya menatap keliling lapangan,
banyak sekali orang yang
tampaknya begitu bersuka cita. Hati
saya begitu sedih, saya ingin marah
dan berteriak,”Pendeta ini tidak mengajarkan kebenaran, isinya
hanya bualan yang bertentangan
dengan Alkitab!” Tapi seperti ada
yang mencegah saya untuk
berteriak, dan sayapun berpikir nanti
saya dikira kerasukan setan dan sibuk di tengking-tengking. Saya
hanya memandang orang-orang
yang tertipu, yang dijanjikan dengan
janji-janji manis pasti masuk surga.
Ini pertama kalinya, saya merasa hati
saya sangat sedih melihat orang- orang yang tertipu oleh pendeta
penipu. Saya tidak tahu mengapa
saya mengalami hal itu.

Di lain waktu saya pernah
menghadiri sebuah Gereja yang suka
melayani kesembuhan ilahi. Saya
lihat begitu acara penyembuhan ilahi
itu akan diadakan, jemaat
berbondong-bondong maju ke depan untuk minta disembuhkan.
Anehnya bukan hanya kesembuhan
saja, tapi ada juga yang minta berkat,
minta jodoh, bahkan minta agar lulus
ujian. Apakah Tuhan mengajarkan
itu semua? Itulah orang-orang yang tertipu oleh pendeta penipu.

Saya pernah menonton acara KKR
kesembuhan ilahi. Banyak jemaat
yang diajak naik panggung karena
merasa sudah sembuh. Kasihan
sekali saya melihatnya, karena saya
tahu dia belum sembuh. Kelihatan sekali dari cara jalannya dan gerakan
tubuhnya, tapi diklaim oleh pendeta
ini kalau dia sudah sembuh.

Pernah juga saya melihat artis yang
katanya sudah disembuhkan
penyakitnya di sebuah KKR
kesembuhan, kalau tidak salah
penyakitnya ada hubungannya
dengan paru-parunya. Ia menyanyi dengan begitu keras dan memukul-
mukul dadanya untuk menunjukkan
ia sudah sembuh, padahal saya
yakin belum. Dalam hati saya
berkata,”Pulang kerumah
penyakitnya akan kambuh kembali bahkan lebih parah karena ia
memukul-mukul dadanya dengan
keras”. Tidak lama kemudian di
televisi diberitakan ia meninggal
dengan penyakit yang sama yang
katanya sudah disembuhkan. Kasihan sekali.

Saya pernah bertemu dengan
seorang hamba Tuhan yang begitu
bersemangat menceritakan kisahnya
bagaimana ia di pilih dan di pakai
oleh Tuhan. Ia mengatakan pernah
menghadapi 5 dukun sekaligus dan dengan kuasa Yesus ia menang. Tapi
sayangnya ajarannya sangat
bertentangan dengan Alkitab. Para
pengikutnya hanya terpesona
dengan kisah-kisahnya yang
tampak mengagumkan, tapi isi firman Tuhan-nya hampir tidak ada.
Saat ia mengatakan menang
menghadapi 5 dukun sekaligus,
sebenarnya saya ingin menjawab,
saya bisa menghadapi 10 dukun
sekaligus dan saya pasti menang tanpa harus menjual nama Yesus,
tapi saya saat itu sedang mengamati
ajarannya, jadi saya hanya
mendengar saja. Mau tahu trik
menang menghadapi 10 dukun
sekaligus?

Saya juga pernah menonton sebuah
video dari seorang bapak yang
menceritakan anaknya yang mati
bunuh diri. Anak ini menderita sakit.
Sewaktu mengikuti KKR, dia
dinyatakan sudah sembuh oleh pendetanya. Seluruh keluarga yang
hadir bersukacita. Tapi begitu pulang
kerumah, penyakit anak ini kambuh
kembali. Keluarga ini heran, lalu ia di
bawa kembali ke pendeta tersebut.
Pendeta itu mengatakan, penyakitnya kambuh kembali
karena kurang beriman dan masih
ada dosa yang disembunyikan
olehnya. Ia harus mengakuinya
untuk bisa sembuh. Anak ini tidak
bisa menjawab apa-apa. Sejak itu ia menjadi pendiam karena berusaha
mencari apa dosanya. Tahun
berikutnya ia ditemukan bunuh diri
oleh keluarganya. Anak ini begitu
frustasi, ia tidak dapat mengerti apa
dosanya. Mungkin anda mengatakan anak ini bunuh diri karena memang
menunjukkan ia tidak punya iman
dan memang memiliki dosa yang
disembuyikan, pendeta itu benar.
Tapi, ini jawaban saya, Anak itu
sudah di bunuh oleh pendeta penipu tersebut! Karena pada dasarnya ia memang tidak sembuh dan ia ditakut-takuti dengan kata iman dan dosa. Jangan menipu jemaat dengan mengatakan ia sembuh lalu ketika kambuh dianggap kurang beriman atau ada dosa yang disembunyikan.
Inilah kata-kata yang umumnya
digunakan oleh pendeta-pendeta
penipu untuk membenarkan diri.

Saya belajar banyak hal dalam
pencarian saya akan kebenaran.
Semakin banyak penipuan-penipuan
oleh para pendeta penipu yang saya
ketahui. Trik-trik yang dilakukan
mereka, kepalsuan ajaran-ajaran mereka dan masih banyak lagi.
Sayangnya, umumnya orang Kristen
begitu terpesona jika ada kisah-
kisah yang menyentuh terutama
yang dibumbui dengan hal-hal yang
kelihatannya berbau supratural. Mereka begitun terpesona sehingga
tidak peduli lagi dengan Alkitab,
cukup mendengar ajaran pendeta-
pendeta penipu seperti ini.
Bukankah mereka adalah hamba-
hamba Tuhan yang diurapi Tuhan, yang diurapi dengan kuasa
mengusir setan, yang diurapi
dengan kuasa penyembuhan, yang
diurapi dengan kuasa Roh Kudus,
dan kuasa-kuasa lainnya.

Saya adalah seorang yang sangat
percaya dengan hal-hal supranatural
sejak saya kecil. Saya tertarik dengan
sulap, ilmu-ilmu kesaktian, mantra-
mantra, ramalan, dan hal-hal lainnya
yang berbau supranatural. Beberapa diantaranya bahkan pernah saya
pelajari.

Tapi kekuatan terbesar saya adalah
mencari kebenaran, dan saya gagal
menemukan kebenaran itu sampai
kebenaran itu sendiri yang
menghampiri saya. Setelah banyak
mengetahui kebenaran dalam dunia supranatural, saya baru bisa melihat
bagaimana penipuan-penipuan
yang berbau suprantural, dan begitu
banyak orang kristen yang tertipu.
Hati saya menangis melihat hal ini.

Ketika saya membongkar penipuan-
penipuan oleh pendeta-pendeta
penipu, mungkin banyak yang
berpikir saya orang yang sombong,
sok tahu, suka menghakimi, tidak
memiliki kasih, merasa diri paling pintar dan benar, dan lainnya, anda
tambahkan sendiri.

Mengapa saya seringkali tampak
seperti orang yang tidak percaya
Tuhan, tampak seperti orang yang
menentang kekristenan? Mungkin
begitulah saya. Kalau sedang marah
kepada Tuhan pun saya katakan terus terang saya marah kepadaNya.
Justru dari situlah saya tahu saya
jujur mengungkapkan isi hati saya
apa adanya, dan buktinya Tuhan
tidak marah, justru menghibur saya.
Mungkin saya terlalu polos menulis, menyatakan apa adanya, sehingga
terkesan lebih menjelekkan
kekristenan. Apapun itu, terserah
penilaian anda.
Tapi ketahuilah, hati saya yang
menangislah yang membuat begitu
marah dengan penipuan-penipuan
dengan atas nama Tuhan dan Gereja.
Saya sendiri tidak mengerti mengapa
begitu sedih melihat orang-orang kristen yang tertipu dan mudah
sekali tertipu. Saya ingin mengajak
setiap orang untuk belajar sungguh-
sungguh jika memang anda benar-
benar mengasihi Yesus. Saya bukan
orang yang pandai bicara, saya juga bukan orang suci, saya bukan orang
pintar, saya hanya orang bodoh
yang ingin terus belajar agar menjadi
pintar, tapi setidaknya saya tahu
anda yang tidak mau belajar pasti
lebih bodoh dari saya. Dan saya hanya ingin membagikan apa yang
saya ketahui dari kebenaran Alkitab.
Terserah anda mau percaya atau
tidak.

Judy, jadi Apa yang Kamu Percaya
Sebagai Orang Kristen? Saya percaya
Tuhan Yesus dan saya percaya
Alkitab adalah kebenarannya yang
diberikan Tuhan untuk bisa kita
pahami.

#Judy_Husin.
#sang_pencari_kebenaran

 

call to Allah

 

One Comment leave one →
  1. Agustus 28, 2014 5:35 am

    Saya sedang iseng mengetikkan nama saya sendiri di Google dan menemukan blog anda yang mengutip tulisan saya, sayangnya anda membuat judul seolah saya akan menjadi seorang muallaf. Mohon maaf, sampai saat ini saya masih mempercayai Yesus sebagai Tuhan dan sama sekali tidak bermaksud untuk pindah agama. Saya memang banyak menulis dengan cara mengkritisi gereja dan ajaran, tapi bukan berarti saya menjatuhkan agama kristen. Seringkali kita diajarkan sebuah agama, kita hanya di tuntut untuk mempercayainya tanpa bisa protes. Kalaupun protes, umumnya kita sebagai seorang yang ingin taat beragama langsung mempercayai apa yang dijelaskan pemimpin agama kita tanpa mengoreksinya kembali kepada kitab suci yang kita anggap sebagai sumber kebenaran.

    Anda seorang muslim dan mempercayai Al-quran (mohon maaf kalau salah tulis) sebagai sumber kebenaran dan saya seorang yang mempercayai Alkitab atau biasanya umat muslim menyebutnya kitab Injil sebagai sumber kebenaran. Manusia, siapapun dia termasuk seorang pemimpin agama yang paling terkenal sekalipun, bisa melakukan kesalahan. Itu sebabnya saya lebih berpegang pada Alkitab. Saya mengkritisi ajaran kristen termasuk para pengajarnya bukan karena saya mempersalahan apa yang terdapat di dalam Alkitab/Injil, tapi karena saya berpegang pada standar kebenaran saya yaitu Alkitab.

    Ajaran seorang pemimpin agama bisa saja salah, baik itu ajaran Kristen maupun Islam, oleh sebab itu saya lebih suka mempercayai kitab suci-nya, dalam apa yang saya percayai adalah Alkitab. Saya mengkritisi bukan karena membenci kekristenan, tapi karena menyatakan kebenaran.

    Saya tidak mengkritisi ajaran Islam karena saya tidak mempercayai Al-quran sebagaimana yang anda percaya. Jika anda mempercayai Al-quran, ceritakanlah keindahan dan kebenaran yang anda dapatkan didalamnya, itu lebih bisa mendorong orang lain yang ingin mengenal Tuhan dan kebenaran agama anda. Mengkritisi agama orang lain apalagi menghinanya untuk mengajak orang mempercayai agama yang kita percayai adalah sebuah cara yang saya sebut “SALAH BESAR”. Jadi adalah lebih baik kita sama-sama menceritakan keindahan agama kita masing-masing, dan biarkan para pendengar atau pembaca kita yang memutuskan kepada siapa mereka beriman.

    Saya tidak mempersoalkan anda mengutip tulisan saya, dan terima kasih anda mengutip seluruhnya tanpa mengedit tulisan saya, tapi dengan membuat judul yang mengarahkan sesuatu seolah mendukung pemikiran anda, menurut saya itu salah.

    Terima kasih telah menyebut saya sebagai teman.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: