Skip to content

Dunia Adalah Daun Menguning, Rahmat Permainan dan Senda-Gurau serta Ujian Menyenangkan Manusia Berhidayah

Mei 17, 2013

 

970091_467444406664077_1588969951_n


Tuhan sudah memberikan segalanya
Tanpa kita bahkan tahu kita memerlukannya

Kita hanya diminta mencari dan merangkaikannya
Karena kita adalah Kholifah di dunia

Karena kita mempunyai hak mengatur ini semua
Dan mempertanggungjawabkannya

Maka janganlah berkeluh-kesah tak kenal masa
Karena setiap hari adalah anugrah sempurna

Kita berpeluang mengubah takdir kita
Menjadi lebih baik atau buruk adanya

Untuk apa menyesali yang telah lewat semua?
Sementara kemungkinan kejayaan terbentang di depan mata?

Dan bagi yang percaya kepada Tuhan Alam Semesta Maha Raja di Raja
Tersedia dunia ini dan Jannah, Taman Surga, yang seluas Alam Raya

Tak usah ciut dan kesal oleh keleluasaan kaum Kafir hidup di dunia
Karena hanya itulah yang akan mereka dapatkan semuanya

Hidup adalah permainan dan senda-gurau belaka
Bagi yang mengerti caranya, ini semua mudah saja

Maka carilah itu di Islam, Iman, dan Islam serta jalan tengah Hikmah agama
Maka tak usah di Surga pun, kau akan merasa baik-baik saja, sangat sempurna

Tak ada satu pun hukum Tuhanmu yang menzalimi apapun saja
Semua bergerak sebagaimana mestinya selalu, dan sesuai saja

Manusia saja yang kadangkala tak mampu menangkap maknanya
Padahal telah jelas petunjuk sempurna di aneka ayatNya

Baik yang Qauliyah, tersurat di KitabNya
Maupun yang Kauniyah, tersirat di AlamNya

Semuanya membawakan pesan yang satu, dari Allah, Sang Maha Raja di Raja
Yang telah berbaik sangat bagi seluruh makhluk di alam semesta

QS Aali Imraan 196-198.

Janganlah sekali-kali kamu terperdaya oleh kebebasan orang-orang kafir bergerak di dalam negeri. Itu hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat tinggal mereka ialah Jahannam; dan Jahannam itu adalah tempat yang seburuk-buruknya.

Akan tetapi orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya, bagi mereka surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, sedang mereka kekal di dalamnya sebagai tempat tinggal (anugerah) dari sisi Allah.

Dan apa yang di sisi Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang berbakti.

QS Al Hadiid 20:

Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur.

Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya.

Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.

QS Faathir 39:

Beliau-lah yang menjadikan kamu Kholifah-kholifah di muka bumi. Barangsiapa yang kafir, maka (akibat) kekafirannya menimpa dirinya sendiri. Dan kekafiran orang-orang yang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah kemurkaan pada sisi Tuhannya dan kekafiran orang-orang yang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah kerugian mereka belaka.

Al Quran Surat Al Baqarah ayat 36-39 (2:36-39):

Lalu keduanya (Adam dan Hawa) digelincirkan oleh Syaithan dari Surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula, dan Kami berfirman: “Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan.” Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. Kami berfirman: “Turunlah kamu semuanya dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.”

QS Ar Rahmaan ayat 29:

Segalanya yang ada di Langit dan Bumi (planet), meminta kepadaNya. Setiap waktu, Beliau (Allah) selalu berada dalam kesibukan.

Dan:

”Allah menghapus apa yang Dia kehendaki, dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki); pada sisiNya ada Ummul Kitab.” (QS Ar ra’d ayat 39) dan pada penafsirannya, ”Sesungguhnya aku akan membuat dirimu dan orang-orang setelah diriku terbelalak dengan penafsiran ayat tersebut. Sedekah yang baik, berbakti kepada kedua orangtua, dan berbuat kebajikan, dapat menempatkan kebahagiaan sebagai ganti kesengseraan, serta dapat memanjangkan umur dan menjaga dari pelaku kejahatan.” (Hadits Rosululloh sholollohu ‘alaihi wasallam riwayat As Suyuthi dari Ali bin Abi Thalib R.A.)

Yang dapat menolak takdir ialah doa dan yang dapat memperpanjang umur yakni kebajikan (amal bakti). (HR. Ath-Thahawi)

Turunkanlah (datangkanlah) rezekimu (dari Allah) dengan mengeluarkan shodaqoh. (HR. Al-Baihaqi)

Lalu:

Mendekati kiamat akan terjadi fitnah-fitnah seolah-olah kepingan-kepingan malam yang gelap-gulita. Seorang yang pagi hari beriman maka pada sore harinya menjadi kafir, dan orang yang pada sore harinya beriman maka pada pagi harinya menjadi kafir, dia menjual agamanya dengan (imbalan) harta-benda dunia.

(HR. Abu Dawud)

Dunia dihuni empat ragam manusia:

Pertama, seorang hamba diberi Allah harta kekayaan dan ilmu pengetahuan lalu bertakwa kepada Robbnya, menyantuni sanak-keluarganya dan melakukan apa yang diwajibkan Allah atasnya maka dia berkedudukan paling mulia.

Kedua, seorang yang diberi Allah ilmu pengetahuan saja, tidak diberi harta, tetapi dia tetap berniat untuk bersungguh-sungguh. Sebenarnya jika memperoleh harta dia juga akan berbuat seperti yang dilakukan rekannya (kelompok yang pertama). Maka pahala mereka berdua ini adalah (kelompok pertama dan kedua) sama.

Ketiga, seorang hamba diberi Allah harta kekayaan tetapi tidak diberi ilmu pengetahuan. Dia membelanjakan hartanya dengan berhamburan (foya-foya) tanpa ilmu (kebijaksanaan). Ia juga tidak bertakwa kepada Allah, tidak menyantuni keluarga dekatnya, dan tidak memperdulikan hak Allah. Maka dia berkedudukan paling jahat dan keji.

Keempat, seorang hamba yang tidak memperoleh rezeki harta maupun ilmu pengetahuan dari Allah lalu dia berkata seandainya aku memiliki harta kekayaan maka aku akan melakukan seperti layaknya orang-orang yang menghamburkan uang, serampangan dan membabi-buta (kelompok yang ketiga), maka timbangan keduanya sama.

(HR. Tirmidzi dan Ahmad)

Seorang anak Adam sebelum menggerakkan kakinya pada hari kiamat akan ditanya tentang lima perkara:

(1) Tentang umurnya, untuk apa dihabiskannya;
(2) Tentang masa mudanya, apa yang telah dilakukannya;
(3) Tentang hartanya, dari sumber mana dia peroleh dan
(4) dalam hal apa dia membelanjakannya;
(5) dan tentang ilmunya, mana yang dia amalkan.

(HR. Ahmad)

Sehubungan dengan ini kiranya, ’Ulama Besar Islam Syaikh Ibnu Qoyyim al Jauziyyah (lahir 691 Hijriyyah) – rahimahulloh – murid yang paling dikenal karena reputasi kebaikan, kecemerlangannya, dari gurunya, ’Ulama besar lain yang digelari Syaikhul Islam, Ibnu Taimiyyah, rahimahulloh, dalam bukunya yang berjudul ”Kunci Kebahagiaan”, membagi manusia menjadi tiga jenis:

Pertama (I): orang yang tidak memiliki bashiroh (penglihatan atau pandangan) iman sama sekali.

Dia (ibarat) hanya melihat kegelapan, guntur, dan kilat. Dia meletakkan dua jarinya di telinganya karena takut kepada suara petir, dan meletakkan tangan di matanya karena takut melihat kilat, khawatir akan membutakan mata.

Pandangannya tidak menjangkau apa yang ada di balik itu semua, seperti rahmat dan sebab-sebab kehidupan yang abadi.

Orang seperti kelompok pertama ini adalah orang yang menutup mata terhadap agama.

Kedua (II): para pemilik bashiroh yang lemah, yang pandangan mereka kepada cahaya ini seperti pandangan Kelelawar ke bola Matahari.

Mereka mengikuti nenek moyang mereka. Agamanya adalah agama adat dan lingkungan tempat mereka berada.

Mereka inilah yang dimaksud oleh Amirul Mu’miniin Kholifah Ali bin Abi Tholib – rodhiollohu ‘anhu – dengan ucapannya, “Atau orang yang tunduk kepada kebenaran, tapi tidak punya bashiroh untuk memilih kebenaran itu.”

Jika mereka ini tunduk kepada para pemilik bashiroh tanpa ragu sama sekali, maka mereka ada di jalan keselamatan.

Ketiga (III): yakni intisari alam, manusia istimewa.

Mereka adalah para pemilik bashiroh tajam yang menyaksikan nuur (cahaya) yang terang ini. Mereka punya keyakinan dan bashiroh terhadap keindahan dan kesempurnaan nuur ini.

Seandainya lawan dari nuur ini dipaparkan ke akal mereka, pasti mereka melihatnya seperti malam yang gelap gulita, hitam.

Inilah inti perbedaan antara mereka dengan kelompok sebelumnya.

Orang-orang (dari golongan kedua) itu mengikuti orang yang memimpin dan menemani mereka saja, seperti kalimat dari Amirul Mu’miniin Kholifah Ali bin Abi Tholib – rodhiollohu ‘anhu -, “Mereka mengikuti setiap suara panggilan, menuruti semua teriakan orang. Mereka tidak bersuluh dengan cahaya ilmu, dan tidak bersandar ke tiang yang kokoh.”

Ini tanda orang yang tidak punya bashiroh:

Anda lihat dia menyukai sesuatu, juga menyukai lawannya. Dia memuji sesuatu, tapi juga memakinya, jika dibungkus ‘kulit yang tidak dikenalnya’.

Dia mengagungkan ketaatan kepada Rasul – shollollohu ‘alaihi wasallam – dan memandang pelanggaran ajaran beliau sebagai dosa besar, tapi dia sendiri tergolong orang yang paling membangkang terhadap ajaran tersebut, paling keras memusuhi orang yang mengamalkan sunnahnya.

Ini karena dia tidak punya bashiroh.

Adapun orang dari kelompok ketiga ini, amal mereka berlandaskan bashiroh.

Dengan perbedaan bashiroh itulah kemuliaan mereka bertingkat-tingkat, seperti kata seorang salaf (*) ketika menyinggung generasi silam, “Itu hanya karena mereka beramal dengan dasar bashiroh.”

Keterangan:

(*) Salaf adalah orang terdahulu yang salih (Salafus Salih) atau pengikut orang terdahulu salih (Salafi), yang dalam hal yang disebut sebagai “orang terdahulu yang salih” adalah kalangan Sahabat, Tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in yang dijamin Rosululloh sholollohu ’alaihi wasallam sebagai umat yang terbaik sampai kapanpun di Hadits:

“Sebaik-baik umatku adalah pada abadku ini (kaum Sahabat), kemudian yang sesudahnya (kaum Tabi’in) dan yang sesudahnya (kaum Tabi’ut Tabi’in). Kemudian sesudah mereka muncul suatu kaum yang memberi kesaksian tetapi tidak bisa dipercaya kesaksiannya. Mereka berkhianat dan tidak dapat diamanati. Mereka bernazar (berjanji) tetapi tidak menepatinya dan mereka tampak gemuk-gemuk.” (HR. Tirmidzi)

Seseorang tidak pernah mendapat karunia lebih afdhal dari bashiroh (pengetahuan yang dalam) tentang agama Allah subhanahu wa ta’aala, meski dia beramal sekedarnya.

Allah subhanahu wa ta’aala berfirman, di Al Quran Surat Shaad ayat 45 (38:45):
Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishak dan Ya’qub yang mempunyai perbuatan-perbuatan yang besar dan ilmu-ilmu yang tinggi.”

Ibnu Abbas – rodhiollohu ‘anhu – berkata (dalam menafsirkan ayat ini), “Artinya ulil aidi atau “yang mempunyai perbuatan-perbuatan yang besar” adalah punya kekuatan dalam ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’aala, dan arti ulil abshaar atau “mempunyai ilmu-ilmu yang tinggi” adalah memiliki pengetahuan tentang perintah Allah subhanahu wa ta’aala.”

Qatadah dan Mujahid berkata, “Mereka diberi kekuatan dalam ibadah dan pandangan yang tajam tentang agama.”

Orang yang paling ‘alim (berilmu dalam agama) adalah yang paling tahu tentang kebenaran ketika orang-orang lain berbeda pendapat, meski amalannya sederhana saja. Masing-masing dari ketiga kelompok ini punya bagian-bagian lagi yang hanya Allah subhanahu wa ta’aala yang dapat menghitung kadar derajat perbedaannya.

Allah subhanahu wa ta’aala memberi mereka (manusia) ilmu-ilmu yang berkaitan dengan kelangsungan hidup dan urusan duniawi sesuai dengan besarnya hajat.

Misalnya, ilmu kedokteran, ilmu hitung, pertanian, perindustrian, penyulingan air, pendirian bangunan, pembuatan kapal-kapal, pertambangan dan cara pengolahan hasil tambang, peracikan komposisi obat-obatan dan makanan, serta pengetahuan tentang cara-cara menangkap buruan baik hewan liar, burung, maupun hewan air.

Juga pengetahuan tentang cara berdagang dan mencari rezeki, dan ilmu-ilmu lain yang menjadi syarat kehidupan mereka.

Allah tidak memberi pengetahuan lain yang tidak mengandung maslahat bagi mereka dan kapasitas mereka tidak menjangkaunya.

Misalnya, ilmu gaib, ilmu tentang masa lampau dan tentang peristiwa yang akan terjadi, pengetahuan tentang jumlah tetesan air hujan, jumlah ombak laut, butir pasir, daun-daun yang rontok, jumlah dan ukuran bintang, pengetahuan tentang yang ada di atas langit dan yang ada di bawah bumi, ilmu tentang apa yang ada di dasar lautan dan penjuru semesta, tentang apa yang disembunyikan manusia di dalam dada mereka, apa yang dikandung wanita, dan hal-hal lainnya yang tidak diketahui manusia.

Orang yang coba-coba mengetahui hal-hal itu berarti telah menzalimi dirinya, jauh dari taufik, dan tidak mendapat apa-apa selain kebodohan (jahl murakkab) dan khayalan kosong.

Sunnatullah dan hikmah-Nya telah menunjukkan bahwa manusia macam ini adalah manusia yang paling hampa dari ilmu yang bermanfaat dan paling sedikit benarnya.

Anda melihat orang yang tidak mempedulikan ilmu seperti itu memiliki hikmah dan ilmu yang haq dan bermanfaat yang tidak terbetik di dalam benak mereka sama sekali.

Itu adalah hikmah Allah subhanahu wa ta’aala dalam ciptaan-Nya, dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Yang mengetahui hal seperti ini hanyalah mereka yang telah menyaksikan apa yang ada di kepala orang-orang tersebut, yaitu bermacam khayalan, hal-hal mustahil dan hawa nafsu.

Mereka mengira bahwa mereka mengetahui sesuatu, padahal sebenarnya bohong.

Maka, segala puji bagi Allah subhanahu wa ta’aala yang memberi anugerah atas kaum mu’minin (beriman).

Al Quran Surat Aali Imraan ayat 164 (3:164):

Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang Rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah. Sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.

Lalu:

Dunia ini cantik dan hijau. Sesungguhnya Allah menjadikan kamu kholifah dan Allah mengamati apa yang kamu lakukan, karena itu jauhilah godaan wanita dan dunia. Sesungguhnya fitnah pertama yang menimpa bani Israil adalah godaan kaum wanita.

(HR. Ahmad)

Perbandingan dunia dengan akhirat seperti seorang yang mencelupkan jari tangannya ke dalam laut lalu diangkatnya dan dilihatnya apa yang diperolehnya.

(HR. Muslim dan Ibnu Majah)

Malaikat Jibril datang kepada Nabi – shollollohu ‘alaihi wasallam, lalu berkata, “Hai Muhammad, hiduplah sesukamu namun engkau pasti mati. Berbuatlah sesukamu namun engkau pasti akan diganjar, dan cintailah siapa yang engkau sukai namun pasti engkau akan berpisah dengannya. Ketahuilah, kemuliaan seorang mukmin tergantung shalat malamnya dan kehormatannya tergantung dari ketidakbutuhannya kepada orang lain.”

(HR. Ath-Thabrani)

Janganlah kalian mencaci-maki dunia. Dia adalah sebaik-baik kendaraan. Dengannya orang dapat meraih kebaikan dan dapat selamat dari kejahatan. (HR. Ad-Dailami)

Sesungguhnya Allah melindungi hambaNya yang mu’min (beriman) dari godaan dunia dan Allah juga menyayanginya sebagaimana kamu melindungi orangmu yang sakit dan mencegahnya dari makanan serta minuman yang kamu takuti akan mengganggu kesehatannya.

(HR. Al Hakim dan Ahmad)

Maka ternyata, bagi Allah, Al Ilah, Satu-satunya Tuhan, sungguhlah dunia ini tak lebih berharga daripada satu sayap dari nyamuk … :

Dari Sahal bin Sa’ad as-Sa’idi rodhiollohu ‘anhu., berkata:

“Rosululloh shollollohu ‘alaihi wasallam bersabda: “Andaikata dunia ini di sisi Allah dianggap menyamai -nilainya- dengan selembar sayap nyamuk, sesungguhnya Allah tidak akan memberi minum seteguk airpun kepada orang kafir darinya.” Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadis shahih (dari Kitab Riyadhus Sholihiin).

Juga seharusnya demikianlah, patutnya, bagi orang-orang yang beriman … yang diberikan kenikmatan keislaman, keimanan, keihsanan …

Al Quran Surat Ath Thaalaq ayat 10 (65:10):

Allah menyediakan bagi mereka azab yang keras, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang yang mempunyai akal; (yaitu) orang-orang yang beriman. Sesungguhnya Allah telah menurunkan peringatan kepadamu.

Al Quran Surat Al Qashash ayat 77 (28 :77):

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (mencari dengan sungguh-sungguh potensi kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.

Dan kita perlu memahami serta menyikapi serta melakukan segalanya dengan adil, dan tak berlebihan:

Al Quran Surat Al Baqarah ayat 143 (2:143):

Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil (umat yang di tengah-tengah dan menengahi, ummatan washatan) dan pilihan[*] agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rosul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu …

[*] Umat Islam dijadikan umat yang adil dan pilihan, karena mereka akan menjadi saksi atas perbuatan orang yang menyimpang dari kebenaran baik di dunia maupun di akhirat.

Sebaik-baik urusan adalah yang pertengahannya (yang adil atau tidak berlebih-lebihan). (HR. Al-Baihaqi)

Sesungguhnya perumpamaanku dan umatku adalah seperti seorang yang menyalakan api yang mengakibatkan binatang-binatang melata dan nyamuk terperangkap ke dalam api tersebut. Aku sudah berusaha memegang ikat pinggang kalian namun kalian malah menceburkan diri ke dalamnya. (Shahih Muslim dari Abu Hurairah rodhiollohu ‘anhu)

Aneka petunjuk, ternyata sudah ada sejak dulu, namun baru dapat dimengerti manusia, jauh di kemudian hari.

Itupun, dimengertii oleh mereka yang mau, sudi, untuk mengerti.

Maka in syaa Allah sungguh benar pula Rosululloh – shollollohu ‘alaihi wasallam – saat mengatakan sesuatu yang dicatat di Al Hadits bahwa dunia (Bumi dan segalanya) ini sungguh hina di hadapan Allah, al-Ilah (Sang satu-satunya Tuhan), Allah subhanahu wa ta’aala, Tuhan Yang Maha Suci dan Maha Tinggi, tak lebih bagus daripada sebelah sayap nyamuk.

Karenanya marilah kita renungkanlah pula bahwa bahwa sebenarnya kata “dunyaa” dalam Bahasa Arab – atau yang menjadi kata “dunia” dalam Bahasa Indonesia yang memang diserap dari Bahasa Arab – ini ternyata berasal dari kata “dani”, yang artinya adalah “hina” atau “sangat rendah”.

Dan ini pun ada banyak di Al Quran, misalnya di Al Quran Surat Al Qashash ayat 77 (28:77) yang juga mengatur etika kehidupan di dunia dan di akhirat.

Maka inilah, inilah Sistem Manajemen Kehidupan yang Agung dan Lengkap dari Tuhan, Allah, Majikan Alam Semesta, Yang Agung.

Dan juga karenanyalah, adalah sebuah Sistem Petunjuk Kehidupan, Agama, yang diturunkan untuk keselamatan hidup manusia (Al Quran Surat Al Baqarah ayat 38 (2:38) dan Al Mulk ayat 35 (67:340)) yang kesemuanya saling melengkapi, dari Beliau Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Maka sungguh, sistem kehidupan ini dan agama, adalah satu paket lengkap, satu sistem, dan aneka sub-sistemnya, dalam berbagai tahapan, proses, dari Tuhan Yang Maha Kaya.

Karenanya, agama itu, maka, in syaa Allah, adalah kehidupan ini sendiri.

Maka pula, jika tak (sudi) menjalankannya, menjalankan agama, adalah sama saja dengan kematian. Bertahap atau langsung.

Ini semua berasal dari Allah, Al-Ilah, Sang Tuhan, Yang Maha Sempurna, Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Dan sungguh ada pula bukti-buktinya, yang tak terhitung bertebaran di sekitar kita, bahkan di dalam diri kita sendiri, seakan menyindiri kita, setiap saat.

Maka ada ayat-ayat Qauliyyah yang tertulis atau tersurat dalam berbagai Kitab Suci yang memang masihlah suci (pada masanya), dan jelas di Al Quran dan As Sunnah.

Dan ada pula ayat-ayat Kauniyyah yang tidaklah tertulis atau justru sebenarnya tersiratlah di sekitar kita, bahkan di dalam diri kita, di alam semesta, dalam berbagai ilmu seperti ilmu yang kemudian disebut manusia sebagai berbagai ilmu dan turunan empirisnya, seperti Ilmu Biologi, Ilmu Fisika, Ilmu Kimia, Ilmu Matematika, Ilmu Kedokteran, Ilmu Sistem Komunikasi dan Informasi, Ilmu Manajemen, Ilmu Psikologi, Ilmu Kuliner, Ilmu Menjahit, Ilmu Berkebun, dan sebagainya.

Sedangkan jika para ‘Ulama berkata mengenai Ilmu, maka yang dimaksud adalah Agama, dari Allah, dari Tuhan, sebagai induk dari segala macam ilmu.

Dalam kehidupan yang diciptakan Allah, tolak-ukur manusia sebagai Kholifah di Bumi adalah tentang segala segi kehidupan, memanfaatkan semua potensi yang ada dari Allah dengan benar dan seimbang, dengan mengacu kepada petunjuk paripurna dari Allah.

Kesemua kekuatan dalam Islam dan kehidupan karenanya patut berjalan bersama dan karenanya pula, sepatutnyalah saling melengkapi antara satu sama lain, saling menunjang dengan baik.

Kesemuanya ini adalah potensi kekuatan kehidupan dari Allah Sang Pencipta, bagi manusiaNya, di kehidupan ini.

Dan sungguh ada cara-cara terbaik dan terbenar yang telah diterangkan Tuhan Yang Benar bagi makhlukNya.

Yang diperlukan untuk ini, maka adalah menuruti tata-caraNya dan dengan Ilmu Hikmah mencakup Islam, Iman, dan Ihsan.

Lengkap sudah.

Tinggal kita mau mengenalinya atau tidak.

QS Al Israa’ ayat 89:

Dan sesungguhnya Kami telah mengulang-ulang kepada manusia dalam Al Quran ini tiap-tiap macam perumpamaan, tapi kebanyakan manusia tidak menyukai kecuali mengingkari (nya).

QS An Nahl ayat 18 (16:18):

Dan jika kamu menghitung-hitung kenikmatan (dari) Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang

QS Al Baqarah ayat 208:

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam (Sistem Manajemen) Islam (secara) keseluruhan (kaaffaah, total, tidak setengah-setengah dengan istiqomah atau kontinu dan konsekuen agar tidak bermasalah dalam kehidupan), dan janganlah kamu turut langkah-langkah Syaithan. Sesungguhnya Syaithan itu musuh yang nyata bagimu.

Shodaqollohul ‘Azhiim!

Allohu akbar!

Wallohua’lam.

Wastaghfirulloh.

Walhamdulillah.

Ditulis oleh : Abu Taqi Mayestino

Iklan
One Comment leave one →
  1. Juni 20, 2013 12:55 am

    hendaknya dalam hidup selalu mencari Rahmat Ilahi, kunjungan balik ya ke blog saya myfamilylifestyle.blogspot.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: