Skip to content

Pejuang bangsa yang sedikit terlupakan Raden Mas Kartono

April 22, 2013

 

11998_644991452184480_1299067596_n

 

MENGENAL RADEN MAS PANDJI SASRAKARTANA

“Dengan tegas saya menyatakan diri saya sebagai musuh dari siapa pun yang akan membikin kita (Hindia Belanda) menjadi bangsa Eropa atau setengah Eropa dan akan menginjak-injak tradisi serta adat kebiasaan kita yang luhur lagi suci. Selama matahari dan rembulan bersinar, mereka akan saya tantang!”
(Raden Mas Pandji Sasrakartana-kakak Raden Adjêng Kartini)

●▬▬▬▬▬▬▬▬ஜ۩۞۩ஜ▬▬▬▬▬▬▬▬●

Kaum bangsawan di Belanda menjulukinya Pangeran dari Tanah Jawa. Raden Mas Panji Sosrokartono, kakak R.A. Kartini, selama 29 tahun, sejak 1897, mengembara ke Eropa. Ia bergaul dengan kalangan intelektual dan bangsawan di sana. Mahasiswa Universitas Leiden itu kemudian menjadi wartawan perang Indonesia pertama pada Perang Dunia I. Di Indonesia, Sosrokartono mendirikan sekolah dan perpustakaan. Ia juga membuka rumah pengobatan Darussalam di Bandung. Tempo menelusuri jejak sang intelektual dan spiritualis ini dari orang-orang yang pernah bersinggungan dengan Sosrokartono, juga dari berbagai bukunya, termasuk surat- surat Kartini dan adik-adiknya, dan dari naskah pidatonya yang
masih tersimpan di Leiden. Selama 29 tahun ia hidup melanglang Eropa. Di Bandung ia mendirikan perpustakaan, rumah pengobatan, dan dicap komunis.

FOTO hitam putih seukuran kartu pos itu masih ia simpan rapi. Saat itu Kartini Pudjiarto masih delapan tahun. Ia bersama ibunya RA Siti Hadiwati dan kakeknya PAA Sosro Boesono berfoto bersama RM Panji Sosrokartono di rumah pengobatan Darussalam di Jalan Pungkur 7, Bandung, milik Sosrokartono.

Sosrokartono (1877-1952) adalah adik kandung Boesono. Keduanya adalah kakak RA Kartini, pahlawan emansipasi wanita yang setiap tanggal 21 April selalu dirayakan di seluruh pelosok Indonesia. Mereka adalah anak Bupati Jepara Raden Mas Adipati Ario Samingoen Sosroningrat untuk periode 1880-1905 dari perkawinannya dengan Ngasirah. Pasangan ini memiliki delapan anak.

Foto yang menjadi koleksi tak ternilai Kartini Pudjiarto itu dipotret pada 1950, dua tahun menjelang Sosrokartono wafat. Eyang Sosro, begitu Kartini memanggil, duduk di sebuah kursi. “Eyang Sosro lebih sering duduk di kursi, karena separuh tubuhnya sudah lumpuh,” ucapnya kepada Tempo pekan lalu.

Ia masih ingat, setiap kali berkunjung ke rumah panggung yang dindingnya terbuat dari bambu itu, ia selalu dicium dan diusap kepalanya. Eyang Sosro sering berpuasa. Jika tak berpuasa, ia jarang makan. “Eyang sering hanya
minum air kelapa,” tutur Kartini.

Meski separuh lumpuh, Kartono–begitu RA Kartini dan adik-adiknya memanggil–masih menerima ratusan tamu yang datang dengan berbagai kepentingan, mulai dari sekadar meminta nasihat, belajar bahasa asing, hingga mengobati berbagai macam penyakit. Pada setiap pengobatan, Kartono biasanya memberikan air putih dan secarik kertas bertulisan huruf Alif (singkatan dari Allah) kepada pasien. Kartini Pudjiarto masih menyimpan lukisan sederhana berbingkai kayu yang berisi goresan Alif di kertas putih pemberian Eyang Sosro. “Katanya buat jaga-jaga,” ujar Kartini.

Ada pula secarik kertas putih yang berisi nasihat Eyang Sosro bertulisan “Sugih tanpa bandha / Digdaya tanpa aji / Nglurug tanpa bala / Mênang tanpa ngasorake” (Kaya tanpa harta/ Sakti tanpa azimat/ Menyerbu tanpa pasukan/ Menang tanpa merendahkan yang dikalahkan) yang ditempel dengan selotip di dinding. Ia juga menyimpan tongkat Kartono, yang merupakan jatah warisan keluarga yang dibagi-bagi setelah sang eyang meninggal.

Air putih, huruf Alif, nasihat-nasihat hidup yang ia tulis dalam bahasa Jawa, dan laku berpuasa berhari-hari, adalah bagian dari “wajah mistik” Sosrokartono, orang Indonesia pertama yang terjun ke medan peperangan di Perang Dunia I di Eropa sebagai wartawan. Selama 29 tahun, Sosrokartono lebih dikenal sebagai seorang intelektual yang disegani di Eropa. Ia kerap dipanggil dengan sebutan De Javanese Prins (Pangeran dari Tanah Jawa) atau De Mooie Sos (Sos yang Tampan).

Ia mengembara ke beberapa negara. Mula-mula ia belajar di Delft, Belanda, lalu pindah ke Universitas Leiden, bergaul dengan kalangan bangsawan Eropa, kemudian menjadi wartawan perang. Ia juga pernah menjadi staf Kedutaan Besar Prancis di Den Haag, bahkan sempat menjadi penerjemah untuk Liga Bangsa-Bangsa. Kartono pada akhirnya memutuskan pulang ke Indonesia mendirikan perpustakaan dan sekolah. Seperempat abad sisa umurnya kemudian ditambatkan sebagai seorang spiritualis.

Pramoedya Ananta Toer dalam Panggil Aku Kartini Saja (Hasta Mitra, Jakarta, 1997) menggambarkan kelebihan Kartono sebagai spritualis itu. Pram mengutip kesaksian seorang dokter Belanda di CBZ (kini RS Dr Cipto Mangunkusumo, Jakarta) pada 1930-an. Ia menyaksikan Kartono menyembuhkan wanita melahirkan yang menurut para dokter tak tertolong lagi, tapi sembuh setelah minum air putih yang diberikan Kartono.

Suryatini Ganie, cucu RA Sulastri Tjokrohadi Sosro, kakak seayah Sosrokartono, menggambarkan kelebihan Kartono yang juga kakeknya itu sebagai orang yang mudah sekali menebak pikiran orang. Menurut pengarang buku Resep-resep Kartini ini, Eyang Sosro cenderung menyendiri, jauh di Bandung, dibanding berkumpul dengan keluarga yang tersebar di Jawa Tengah.

Rumah pengobatan Pondok Darussalam milik Sosrokartono merupakan rumah panggung yang terbuat dari kayu dengan dinding bambu. Rumah itu dibangun memanjang membentuk huruf L sepanjang Jalan Pungkur. Bangunan itu tepat
berada di depan terminal angkutan kota Kebun Kelapa sekarang.

Kini bangunan itu sudah tidak ada lagi. Penghuninya sudah berganti, begitu juga nomor rumahnya, yang sudah memakai nomor baru yang dipakai sejak 1960-an. Pemilik ruko yang menempati Jalan Pungkur 3, 5, 7, 9 ketika ditanya tidak tahu bahwa di jalan itu pernah ada pondok pengobatan milik Sosrokartono. Mendengar cerita Kayanto, pondok pengobatan milik Kartono diperkirakan menempati deretan bangunan yang kini sudah berubah menjadi toko listrik, swalayan di Gedung Mansion, serta sebuah apotek yang terletak di sudut Jalan Pungkur dan Jalan Dewi Sartika.

Kayanto Soepardi, 63 tahun, putra seorang asisten Sosrokartono, masih ingat: Darussalam tak pernah sepi. Tamunya mulai dari orang Belanda, pribumi, hingga Cina peranakan. Ia pernah melihat Bung Karno datang menemui Kartono. Saat itu Kartono menggoreskan huruf Alif di atas kertas putih seukuran prangko dan menyelipkannya ke dalam peci Bung Karno, entah untuk apa. Bung Karno pula, menurut penuturan ayahandanya, kerap datang untuk belajar bahasa kepada Sosrokartono.

Kartono, menurut Kayanto, tidak pernah lepas dari sebuah tongkat, beskap berwarna putih lengan panjang, sebuah topi (mirip mahkota) warna hitam, dan mengalungkan tasbih yang menggantung hingga dadanya. Janggutnya
sebagian sudah memutih, sorot matanya tajam, dan lebih banyak diam.

Darussalam, selain menjadi rumah pengobatan, juga sebuah perpustakaan. Kartono dalam suratnya kepada Abendanon pada 19 Juli 1926 (Surat- surat Adik R.A. Kartini terbitan PT Djambatan 2005) menceritakan selain mendirikan perpustakaan Panti Sastra di Tegal bersama adiknya, RA Kardinah, ia juga mendirikan perpustakaan di Bandung. “Perpustakaan ini tidak disebut dengan nama yang lazim melainkan merupakan lambang dari suatu pengertian baru, suatu cita-cita baru. Namanya Darussalam, yang berarti rumah kedamaian,” tulis Kartono.

Buku-buku perpustakaan itu disumbang oleh dua orang insinyur perusahaan kereta api Staats Spoorwegen, tiga orang partikelir bangsa Belanda, dua orang wanita Belanda, tiga orang Jawa, dan seorang Tionghoa. “Semboyannya
‘tanpa rupa tanpa swara’, yang berarti tidak berwarna, tiada perbedaan, tiada perselisihan,” ucap Kartono.

Budya Pradipta, Ketua Paguyuban Sosrokartanan Jakarta dan dosen tetap bahasa, sastra, dan budaya Jawa Fakultas Sastra Universitas Indonesia, mengatakan Darussalam adalah bekas gedung Taman Siswa Bandung. Kartono
diminta menempati gedung itu oleh RM Soerjodipoetro, adik Ki Hajar Dewantara. “Eyang Sosro di sana karena diminta menjadi pimpinan Nationale Middelbare School (Sekolah Menengah Nasional) milik Taman Siswa,” ujar Budya.

Di perpustakaan inilah tokoh pergerakan Indonesia sering berkumpul, termasuk Ir Soekarno. Bung Karno juga diminta mengajar di sekolah itu bersama Dr Samsi dan Soenarjo SH. Gedung ini juga dipakai oleh Partai Nasional Indonesia dan Indonesisch Nationale Padvinders Organisastie pimpinan Abdoel Rachim, mertua Bung Hatta.

Kepeloporan Kartono sebagai tokoh pendidikan inilah yang hendak dikenang Sukadiah Pringgohardjoso, mantan Duta Besar RI untuk Denmark (1981-1984). Sukadiah kini aktif sebagai pembina Yayasan Pendidikan Anak Sehat Sosrokartono di Cengkareng Barat, Jakarta. Yayasan ini didirikan oleh Sosrohadikusumo, anak dari Soematri Sosrohadikusumo–adik Kartono. “Kami lebih mementingkan hal-hal konkret: mendidik anak sesuai dengan keinginan beliau dan mengentaskan kemiskinan,” ujar Sukadiah.

Kartono tak pernah beku. Di Belanda, selain kuliah, ia menjadi koresponden liputan Perang Dunia I untuk koran The New York Herald, cikal bakal The New York Herald Tribune. Agar bisa lebih masuk ke kancah perang, ia menerima pangkat mayor dari tentara Sekutu, tapi menolak dipersenjatai.

Salah satu keberhasilan Kartono sebagai wartawan adalah ketika berhasil memuat hasil perjanjian rahasia antara tentara Jerman yang menyerah dan tentara Prancis yang menang perang (Baca: Wartawan Mooie dari Hindia Belanda).

Sebagai koresponden perang, tulis Mohammad Hatta dalam Memoir, Kartono bergaji US$ 1.250 sebulan. “Dengan gaji sebanyak itu, ia dapat hidup sebagai seorang miliuner di Wina. Menurut cerita ia bergaul dalam lingkungan bangsawan,” tulis Hatta.

Kartono, intelektual yang menguasai 17 bahasa asing itu, mudah diterima kalangan elite di Belanda, Belgia, Austria, dan bahkan Prancis. Ia berbicara dalam bahasa Inggris, Belanda, India, Cina, Jepang, Arab, Sanskerta, Rusia, Yunani, Latin. Bahkan, “Ia juga pandai berbahasa Basken (Basque), suatu suku bangsa Spanyol,” kata Hatta.

Dengan pengetahuan dan kecakapan berbahasa itu, Kartono memberanikan diri menemui Gubernur Jenderal W. Rooseboom pada 14 Agustus 1899, sebelum berangkat ke Batavia untuk memangku jabatannya yang baru. Solichin Salam dalam Drs. RMP Sosrokartono, Sebuah Biografi (terbitan Yayasan Pendidikan Sosrokartono, 1979) menyebutkan, dalam pertemuan tersebut Kartono meminta kepada Rooseboom untuk benar-benar memperhatikan pendidikan dan pengajaran kaum pribumi di Hindia Belanda.

Profesor Dr J.H.C. Kern, dosen pembimbingnya di Universitas Leiden, kemudian mengundang Kartono untuk menjadi pembicara dalam Kongres Bahasa dan Sastra Belanda ke-25 di Gent, Belgia, pada September 1899. Dalam kongres yang membicarakan masalah bahasa dan sastra Belanda di pelbagai negara itu, Sosrokartono mempersoalkan hak-hak kaum pribumi di Hindia Belanda yang tak dipenuhi pemerintah jajahan. Dalam pidato berjudul Het Nederlandsch in Indie (Bahasa Belanda di Indonesia), Kartono antara lain mengungkapkan: “Dengan tegas saya menyatakan diri saya sebagai musuh dari siapa pun yang akan membikin kita (Hindia Belanda) menjadi bangsa Eropa atau setengah Eropa dan akan menginjak-injak tradisi serta adat kebiasaan kita yang luhur lagi suci. Selama matahari dan rembulan bersinar, mereka akan saya tantang!”

Keluhuran tradisi itulah yang menurut Kartono mesti dipertahankan orang-orang pribumi di mana saja berada. Dengan cakrawala pengetahuan yang terbuka–Kartono meminta pemerintah jajahan agar bahasa Belanda dan bahasa
internasional lain diajarkan di Hindia Belanda–kaum pribumi bisa mempertahankan kemuliaan tradisi dan harga diri mereka.

Setelah 29 tahun melanglang Eropa sejak 1897, pangeran tampan dari tanah
Jawa itu pun pulang. Ia ingin mendirikan sekolah sebagaimana dicita-citakan mendiang adiknya, Kartini. Ia juga ingin mendirikan perpustakaan. Untuk menghimpun modal, pada mulanya ia melamar menjadi koresponden The New York Herald untuk Hindia Belanda, tapi koran itu sudah berganti pemilik dan
merger dengan koran lain.

Namun, dalam suratnya kepada Nyonya Abendanon, Kartono menyatakan
kekecewaannya. Sesampai di Jawa, ia telah dicap sebagai komunis oleh
pemerintah jajahan. “Itu merupakan bentuk fitnah yang sangat keji yang
saya rasakan, namun tidak berdaya terhadapnya,” tulis Kartono.

“Tapi kepada Anda, Nyonya yang mulia, saya bersumpah atas kubur ayah saya
dan Kartini, bahwa saya sama sekali tak pernah menganut paham komunis,
dulu tidak, sekarang pun tidak. Tidak ada yang lebih saya inginkan daripada bekerja untuk pendidikan mental sesama bangsa saya, dalam artian
yang telah dimaksudkan oleh Kartini,” ucap Kartono

Kartono kemudian menggalang dukungan dari kelompok pergerakan di
Indonesia. Ia menemui Ki Hajar Dewantara. Bapak pendidikan itu lalu
mempersilakan Kartono membangun perpustakaan di gedung Taman Siswa
Bandung. Ia pun diangkat menjadi kepala Sekolah Menengah Nasional di kota
ini.

Pada saat yang bersamaan, ia menyaksikan orang-orang kelaparan dan
diserang berbagai macam penyakit. Kartono pun kemudian menjalankan laku
puasa bertahun-tahun untuk merasakan apa yang juga diderita
saudara-saudaranya. Ia juga menjadikan Darussalam sebagai rumah
pengobatan.

Cerita air putih, Alif, dan wejangan-wejangan hidup dalam bahasa Jawa,
kemudian mengalir dari sini dan menjelmakan Kartono sebagai seorang
penyembuh. Walaupun tak memiliki murid, di kemudian hari Kartono memiliki
“pengikut”. Paguyuban Sosrokartanan, komunitas pencinta Sosrokartono, kini telah ada di empat kota: Jakarta, Yogyakarta, Semarang, dan Surabaya. Di Yogyakarta, paguyuban ini juga membuka rumah pengobatan.

Separuh badan Kartono lumpuh sejak 1942. Kartono mangkat pada 1952, tanpa
meninggalkan istri dan anak. Ia dimakamkan di Sedo Mukti, Desa Kaliputu,
Kudus, Jawa Tengah. Di sebelah kiri makam Kartono terdapat makam ibunya
Nyai Ngasirah dan bapaknya RMA Sosroningrat.

Di dinding pagar besi di makam Kartono, terpasang tulisan huruf Alif dalam
bingkai kaca seukuran 10R. Di bawahnya terdapat foto Kartono mengenakan
setelan jas ala orang Barat. Di nisan sebelah kiri, tercantum kata- kata
terpilih Kartono: Sugih tanpa banda, digdaya tanpa aji. Di nisan sebelah
kanan tercantum kalimat: Trimah mawi pasrah (rela menyerah terhadap
keadaan yang telah terjadi), suwung pamrih têbih ajrih (jika tak berniat
jahat, tidak perlu takut), langgêng tan ana susah tan ana bungah (tetap
tenang, tidak kenal duka maupun suka), antêng manthêng sugêng jênêng (diam
sungguh-sungguh, maka akan selamat sentosa).

Iklan
2 Komentar leave one →
  1. yudi bola permalink
    April 22, 2013 9:51 am

    ini salah satunya dari sekian banyaknya pejuang negara kita yang terlupakan,,,

  2. Sigit permalink
    April 25, 2013 5:04 am

    Contoh nyata sumbangsih “kaum ningrat” bagi bangsa Indonesia. Ironisnya, sekarang “kaum ningrat” justru digambarkan sebagai kaum yang kolot,dan anti kemajuan, lewat film2 yang tidak mendidik, “kaum ningrat” disisihkan sebagai kelompok yang ketinggalan jaman…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: