Skip to content

AL QUR’AN TENTANG REPRODUKSI MANUSIA & DUKUNGAN PENEMUAN SCIENCE MODERN

April 18, 2013

 

islam-science-6

 

Allah berfirman dalam Al Qur’an :

QS Al Hajj ayat 5: Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), Maka (ketahuilah) Sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari ’segumpal darah’/’sesuatu yang melekat’, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur- angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (adapula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah.

Lalu, setidaknya, kata ”Al ’Alaq” seperti di ayat ini disebutkan dalam 4 ayat lain yang membicarakan transformasi urut-urutan reproduksi manusia sejak tahap setetes sperma:

QS Al Mu’minuun ayat 14: Kemudian air mani itu Kami jadikan Al ’Alaq, lalu itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. kemudian Kami jadikan Dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik.

QS Al Mu’miin ayat 67: Dialah yang menciptakan kamu dari tanah kemudian dari setetes mani, sesudah itu dari Al ’Alaq, kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak, kemudian (kamu dibiarkan hidup) supaya kamu sampai kepada masa (dewasa), kemudian (dibiarkan kamu hidup lagi) sampai tua, di antara kamu ada yang diwafatkan sebelum itu. (kami perbuat demikian) supaya kamu sampai kepada ajal yang ditentukan dan supaya kamu memahami(nya).

QS Al Qiyaamah ayat 37-38: Bukankah Dia dahulu setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim), kemudian mani itu menjadi Al ’Alaq, lalu Allah menciptakannya, dan menyempurnakannya,

Maka, khusus perihal kata ”Al ’Alaq” ini, secara tradisional, penerjemahan Al Qur’an kuno/tradisional, seringkali kata ini ditafsirkan/diartikan saja sebagai ”segumpal darah” oleh berbagai mufassir/penafsir. Dan ini jamak dijumpai di berbagai terjemahan bahkan tafsir Al Qur’an di seluruh dunia.

Jika kata itu mutlak diartikan “segumpal darah”, hal ini tidak masuk akal karena tidak pula sesuai dengan ilmu pengetahuan tentang proses reproduksi manusia. Mengapa? Karena sesunguhnya ilmu pengetahuan reproduksi manusia mengkonfirmasikan bahwa tidaklah pernah manusia tercipta melalui tahapan ’gumpalan darah’, dalam rangkaian tahap reproduksinya.

Maka, derajat keotentikan Al Quran dalam hal ini pun (jika tetap memakai terjemahan kata ”segumpal darah”) jelas telah gugur, dan manusia serta makhluk lain yang membaca Al Qur’an dapatlah saja menjadi kafir bahkan murtad karenanya, karena menganggap penciptaan manusia yang demikian, tidak sesuai dengan ilmu-pengetahuan.

Jika memang benar demikian, ini BERBAHAYA, dan sekaligus tentu saja tidak sepatutnya, karena Al Qur’an adalah dari Tuhan Semesta Alam.

Namun, Tuhan Semesta Alam lah yang memang menjaganya. Dan Al Quran tentu saja tetap benar sebagai petunjuk sepanjang jaman.

Penjelasannya, jika kita menilik kepada ilmu reproduksi ini sendiri, ternyata menetapnya telur dalam rahim, terjadi karena tumbuhnya jonjot (villosities) atau perpanjangan telur yang akan mengisap dari dinding rahim, zat yang diperlukan untuk membesarnya telur, seperti layaknya akar tumbuhan yang masuk ke tanah. Pertumbuhan semacam ini mengokohkan telur dalam rahim.

Atau, ketika sperma dari laki-laki bergabung dengan sel telur wanita, intisari bayi yang akan lahir terbentuk. Sel tunggal yang dikenal sebagai “zigot” dalam ilmu biologi ini akan segera berkembang biak dengan membelah diri hingga akhirnya menjadi “segumpal daging”. Tentu saja hal ini hanya dapat dilihat oleh manusia dengan bantuan mikroskop.

Namun, zigot tersebut tidak melewatkan tahap pertumbuhannya begitu saja. Ia melekat pada dinding rahim seperti akar yang kokoh menancap di bumi dengan carangnya. Melalui hubungan semacam ini, zigot mampu mendapatkan zat-zat penting dari tubuh sang ibu bagi pertumbuhannya. (Moore, Keith L., E. Marshall Johnson, T. V. N. Persaud, Gerald C. Goeringer, Abdul-Majeed A. Zindani, and Mustafa A. Ahmed, 1992, Human Development as Described in the Qur’an and Sunnah, Makkah, Commission on Scientific Signs of the Qur’an and Sunnah, s. 36)

Inilah yang layak disebut, diterjemahkan korelatif sebagai ”sesuatu yang melekat” (Al ’Alaq).

Makna yang lebih tepat dari kata ”Al Alaq” karenanya adalah, ”sesuatu yang melekat”, yang, saat manusia belum dapat mengetahui jalannya proses reproduksi (manusia) ini, pemakaian kata ”sesuatu yang melekat” daripada kata ”segumpal darah”, terlihat lebih tidak masuk akal bagi para mufassir tradisional; padahal sesungguhnya justru sebaliknya. Dan sekali lagi, pengetahuan manusia tentang ini baru didapatkan manusia pada jaman modern, berabad-abad sesudah Al Quran diturunkan.

Tidaklah mengherankan kiranya, betapa banyak para penerjemah tradisional yang sewajarnya tidak (banyak) mengetahui kaidah ilmu kedokteran, secara mudahnya menerjemahkan kata ”Al ’Alaq” ini sebagai ”segumpal darah” saja, dalam ayat-ayat itu. Penerjemahan seperti itu, terlihat cukup masuk akal di saat itu, mereka sungguh telah berusaha sebaik-baiknya dengan segala pengetahuan yang mereka miliki, dan tentulah kesalahan manusiawi ini dapatlah dimaafkan, tinggal bagaimana sebaiknya ke depan.

Tidaklah mengherankan kiranya, betapa berabad-abad lalu, banyak para penerjemah dan mufassir (penafsir) tradisional yang sewajarnya tidak (banyak) mengetahui kaidah ilmu kedokteran, secara mudahnya menerjemahkan kata ”Al ’Alaq” ini sebagai ”segumpal darah” saja, dalam ayat-ayat itu.

Penerjemahan seperti itu, terlihat cukup masuk akal di saat itu, mereka sungguh telah berusaha sebaik-baiknya dengan segala pengetahuan yang mereka miliki, tentulah kesalahan manusiawi ini dapat dimaafkan, tinggal bagaimana baiknya ke depan.

Dan bagaimanapun tafsirnya, Al Quran tetap tuntunan kehidupan terbaik dari Sang Pencipta Alam.

Iklan
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: