Skip to content

Benarkah Al-Quran Mengakui Kebenaran Doktrin Trinitas?

Januari 22, 2013

65799_250091595123439_1918195764_n

Para misionaris sudah kehabisan akal dalam menjajakan doktrin Trinitas! Setelah gagal mempertahankan validitas doktrin Trinitas (Tritunggal) berdasarkan ayat-ayat Bibel, mereka menganalogikan Tuhan dengan monyet (baca Suara Islam edisi lalu) tapi gagal lagi. Kini mereka beralih kepada ayat-ayat Al-Qur’an yang diselewengkan sebagai alat pembenaran. Untuk itulah Pendeta Zachariah Butrus menulis booklet “Allah itu Esa di Dalam Tritunggal yang Kudus” terbitan Yayasan Jalan Al-Rachmat.

Butrus memulai tulisannya dengan membuat rumusan Trinitas pada Bab I bahwa Bapa, Anak (Firman) dan Roh Kudus adalah oknum Tuhan yang sama: “Allah itu satu adanya. Allah berada dalam diri-Nya sendiri, Ia menyatakan diri-Nya sebagai Bapa. Allah berbicara dalam firman-Nya, Ia menyatakan diri-Nya sebagai Anak, yakni Firman. Allah Hidup dalam Roh-Nya, Ia menyatakan diri-Nya sebagai Roh Kudus.” (hlm. 6). Penjelasan ini dipertegas lagi pada akhir Bab III: “Bapa adalah gelar dari kebapaan Allah yang hakiki, Anak adalah gelar dari firman Allah yang sudah menjelma menjadi manusia, dan Roh Kudus adalah Roh Allah sendiri.”

Sebagai penopangnya Butrus mencomot dua ayat Bibel, yaitu Matius 28:19 dan 1 Yohanes 5:7. Ayat yang pertama diyakini sebagai ayat Trinitas karena terdapat kata “Bapa, Anak dan Roh Kudus,” sedang ayat yang kedua terdapat kalimat “Bapa, Firman dan Roh Kudus, ketiganya adalah satu.”

Rumusan Trinitas model Butrus ini justru menambah daftar kerancuan Trinitas: Pertama, Jika Yesus adalah Firman Allah yang menjelma menjadi manusia, mengapa Allah masih berfirman (berkata) kepada Yesus?

“Sebab segala firman yang Engkau sampaikan kepadaku telah kusampaikan kepada mereka dan mereka telah menerimanya. Mereka tahu benar-benar, bahwa aku datang dari pada-Mu, dan mereka percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus aku” (Yohanes 17: 8).

Menurut ayat ini, Allah menyampaikan firman kepada Yesus untuk disampaikan kepada para muridnya. Jelaslah bahwa Allah tidak menjelma menjadi Yesus. Jika Allah menjelma menjadi Yesus, seharusnya Allah tidak perlu lagi berfirman kepada Yesus. Pada ujung ayat, disebutkan Allah mengutus Yesus. Ini menambah bukti bahwa Yesus bukan penjelmaan Tuhan. Jika Allah sudah menjelma menjadi Yesus, tentunya Allah tidak akan mengutus Yesus, bukan?

Kedua, Jika Roh Kudus adalah Roh Allah sendiri (dua oknum yang sama), mengapa Alkitab memposisikan keduanya sebagai oknum yang berbeda satu sama lainnya? Buktinya, Allah mengutus Roh Kudus (Yohanes 14:26). Fakta ini menegaskan bahwa Roh Kudus bukanlah penjelmaan Allah. Sebab Allah yang mengutus berbeda (tidak sama) dengan Roh Kudus yang diutusnya. Keduanya bukan oknum yang sama.

Menurut Alkitab, Roh berdoa kepada Allah (Roma 8:26), dan orang yang menghujat Allah masih bisa diampuni, tapi menghujat Roh Kudus tak bisa diampuni (Markus 3:28-29). Kedua fakta ini pun mempertegas bahwa Allah berbeda dengan Roh Kudus.

Ketiga, Injil Matius 28:19 yang dijadikan sebagai dalil Trinitas adalah ayat palsu. Keabsahan ayat ini diragukan oleh banyak teolog, karena Injil Matius pasal 28 seharusnya berakhir sampai pada ayat 15. Sedangkan lima ayat berikutnya, yaitu Matius 28:16-20 adalah ayat-ayat sisipan yang ditambahkan oleh Gereja di kemudian hari.

Bila dibaca dengan teliti, maka terlihat jelas bahwa ayat 15 adalah penutup Injil Matius pasal 28. Hugh J. Schonfield, nominator pemenang Hadiah Nobel tahun 1959, memberikan komentar yang sangat tajam:

“This [Matthew 28: 15] would appear to be the end of the Gospel (of Matthew). What follows [Matthew 28: 16-20] from the nature of what is said, would then be a latter addition” (The Original New Testament, 1998, hlm. 124).

(Ayat ini [Matius 28: 15] nampak sebagai penutup Injil Matius. Dengan demikian, ayat-ayat selanjutnya [Matius 28: 16-20], dari kandungan isinya, nampak sebagai ayat-ayat yang baru ditambahkan kemudian).

Keempat, 1 Yohanes 5:7 yang dijadikan sebagai penopang Trinitas pun bukan firman Tuhan, melainkan ayat palsu. Teolog terkenal Charles C. Ryrie dalam bukunya Teologi Dasar I halaman 70, menyebut ayat ini bukan bagian dari teks asli Kitab Suci. Teolog Dr. Herbert W. Amstrong memaparkan bahwa ayat ini ditambahkan ke dalam Alkitab edisi Vulgata Latin ketika terjadi kontroversi panas antara Roma, Arius dan umat Allah.

Penelitian dua teolog ternama, Edward Gibbon dan Richard Porson, sama-sama sepakat bahwa ayat 1 Yohanes 5:7 baru pertama kali dimasukkan oleh Gereja ke dalam Alkitab tahun 400 Masehi (Secrets of Mount Sinai, James Bentley, hlm. 30-33).

Karena kuatnya bukti-bukti pemalsuan tersebut, maka ayat 1 Yohanes 5:7 disensor dari Alkitab bahasa Inggris seperti: The Revised Standard Version, The New Revised Standard Version, The New American Standard Bible, The New English Bible, The Philips Modern English Bible, dan lain-lain.

Al-Qur’an Diselewengkan untuk Ketuhanan Trinitas

Karena tidak percaya diri terhadap Trinitas, maka untuk merayu akidah umat Islam, Zachariah Butrus menyelewengkan ayat-ayat Al-Qur’an sebagai justifikasi. Pada bab “Kesaksian Al-Qur’an atas Kesatuan dari Ketritunggalan Yang Kudus,” Butrus menulis:

“Kesaksian Al-Qur’an tentang Ketrintunggalan Kudus Kristen. Al-Qur’an menyaksikan bahwa umat Kristen percaya pada satu Allah (monoteistik) dan bukan kafir. Berikut adalah beberapa contoh dari kesaksian ini:

Surat Ali Imran 113-114: “Mereka itu tiada sama. Di antara Ahli Kitab itu ada golongan yang berlaku lurus, mereka membaca ayat-ayat Allah waktu malam, sedang mereka juga bersujud. Mereka beriman kepada Allah dan hari kemudian, menyuruh ma’ruf, dan melarang dari yang munkar, lagi bersegera mengerjakan kebajikan dan mereka itu termasuk orang-orang yang saleh.”

Ayat ini secara jelas menegaskan bahwa umat Kristen “Ahli Kitab” percaya pada satu Allah. Mereka membaca ayat-ayat Allah yang ada di tangan mereka pada masa Muhammad dan mereka menyembah Allah yang satu dalam ibadah dan doa-doa mereka.

Surat Ali Imran 55: “(Ingatlah), ketika Allah berfirman: “Hai Isa, sesungguhnya Aku akan mewafatkan engkau dan meninggikan (derajat) engkau kepada-Ku serta menyucikan engkau dari orang-orang yang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikuti engkau di atas dari mereka kafir sampai hari kiamat.”

Jelaslah bagi anda bahwa pengikut-pengikut Kristus atau umat Kristen bukanlah orang kafir. Sebaliknya Allah membedakan umat Kristen dari orang kafir dan mengangkat mereka di atas orang kafir. Kesaksian Al-Qur’an tentang umat Kristen telah membuktikan dengan pasti bahwa mereka menyembah satu Allah, dan mereka bukan penyembah banyak Tuhan” (hlm. 9-11).

.
Butrus gelap mata dalam membaca kitab suci. Akal budinya tertutup oleh “nafsu kedagingan” dalam membela doktrin Trinitas yang diadopsi dari keyakinan pagan. Ayat Al-Qur’an yang dikutip itu sama sekali tidak menjustifikasi doktrin Trinitas Kristiani.

Surat Ali Imran 113-114 sama sekali tidak menggeneralisir semua orang Kristen –termasuk orang yang mengimani Trinitas– sebagai orang yang lurus dan bertauhid. Perhatikan, pada awal ayat disebutkan “laisuu sawaa’an min ahlil kitaabi” (tidak sama di antara ahli kitab itu). Maka kesimpulan Butrus bahwa Al-Qur’an mengakui keabsahan Trinitas sebagai doktrin yang mengesakan Allah (tauhid), adalah salah besar!

Dalam realitanya, di samping Ahli Kitab yang lurus seperti yang disebutkan dalam ayat ini, banyak pula Ahli Kitab yang durhaka dan melampaui batas (Al-Ma’idah 78), mengingkari ayat-ayat Allah (Ali Imran 98), merubah ayat-ayat Allah (Al-Ma’idah 13, An-Nisa’ 46), maupun mengoplos ayat-ayat Allah dengan tulisan-tulisan manusia yang batil (Ali Imran 71), dan selalu berusaha menyesatkan manusia karena tidak menginginkan kebaikan dari Tuhan (Ali Imran 69, Al-Baqarah 105).

Butrus kembali keliru memahami Ali Imran 55 sebagai ayat yang menyebut orang Kristen bukan orang kafir. Ayat ini menjamin Isa alaihissalam sebagai nabi yang disucikan dari orang kafir, dan para pengikutnya (kaum Hawariyun) dijadikan berada di atas orang yang kafir. Mereka adalah orang yang setia dan berpegang teguh mengamalkan ajaran Nabi Isa, antara lain: mengimani Muhammad SAW sebagai nabi terakhir yang kedatangannya telah dinubuatkan oleh Nabi Isa (Ash-Shaff 6); mengakui bahwa ajaran Nabi Isa hanya berlaku untuk bani Israel saja (Az-Zukhruf 59, Ash-Shaff 6); dll.

Sedangkan Ahli Kitab yang melanggar ajaran Nabi Isa, mereka disebut sebagai kafir kitabi (kafir dari golongan Ahli Kitab). Orang Kristen disebut kafir karena meyakini ketuhanan Yesus dan mengimani doktrin Trinitas bahwa Tuhan ada tiga oknum (Al-Ma’idah 72-73). Derajat mereka tidak diangkat di atas orang kafir, bahkan mereka kekal di neraka bersama kafir musyrikin sebagai seburuk-buruk makhluk.

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni Ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk” (Qs. Al-Bayyinah 6).

Jadi, Allah mengangkat derajat para pengikut setia Nabi Isa (hawariyun) di atas orang kafir, termasuk orang kafir dari kalangan Kristen.

Oleh :A. Ahmad Hizbullah MAG

Wallahu a’lam bish shawab

…. Subhanallah wabihamdihi Subhanakallahumma Wabihamdika Asyhadu Allailaaha Illa Anta Astaghfiruka Wa’atuubu Ilaik ….

Bagikan tausiyah ini kepada teman-temanmu dengan meng-klik ‘bagikan’/’share’Tandai dan undang temen2mu gabung dg klik ‘Invite Your Friends INGAT Qs.42:48 KEWAJIBANMU tidak lain hanyalah menyampaikan

 

Sumber : ISLAM Bersatu Mualaf Berseru

Iklan
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: