Skip to content

KEPEMIMPINAN DALAM PERSPEKTIF ISLAM

April 16, 2010

Keprihatinan yang mendalam atas pergeseran nilai-nilai kepemimpinan yang terjadi saat ini yang ternyata telah banyak meninggalkan kaedah-kaedah normatif dalam kepercayaan moral (Morality Faith) baik pada sisi keagamaan maupun sisi kemasyarakatannya. Yang berujung pada pelanggaran-pelanggaran terhadap kaedah-kaedah Normatif tersebut, seperti meningkat-nya kasus-kasus korupsi, Kepentingan Golongan atau kelompok tertentu lebih diutamakan dari pada kepentingan orang-orang yang dipimpinnya atau Masyarakat umum, Nepotisme dan Kolusi merajalela, .   Dekadensi Moral Kepemimpinan memang telah terjadi hampir disetiap tingkatan kepemimpinan, baik dalam kepemimpinan keluarga, kepemimpinan sosial kemasyarakatan, kepemimpinan dalam perusahaan atau badan usaha, kepemimpinan partai hingga kepemimpinan kepemerintahan dalam berbagai tingkatan. Sehingga perlu kiranya kita ummat islam mawas diri dan melakukan introspeksi diri atas persitiwa-peristiwa pelanggaran tersebut apakah sudah benar dengan kaedah-kaedah Normatif dalam kepercayaan agama kita ?… Meski kita tidak bisa memfonis diri bahwa dari masyarakat muslim lah pelanggaran-pelanggaran normative tersebut terjadi, Banyak juga pelanggaran-pelanggaran yang sama dilakukan oleh warga dari kalangan Non Muslim, seperti yang baru-baru ini terkuak. Atau korupsi yang terjadi di Negara lain yang Mayoritas masyarakatnya beragama Non Muslim, seperti di Filipina, Taiwan, Argentina, dan Italy. Meskipun demikian kita tetap harus melakukan Introspeksi diri dan mawas diri atas dekadensi moral Kepemimpinan yang terjadi di negeri ini. Berikut ini adalah ulasan pemahaman Kepemimpinan dalam Perspektif Islam semoga bisa menjadi bahan renungan dan jawaban untuk sebagian orang yang mempertanyakannya.

AL MAALIKUL MULKI (Zat yang mempunyai kekuasaan)

Pemimpin dan Pimpinan adalah dua kata yang seakan sama, namun memiliki dua makna yang berbeda. Sudah barang tentu Pemimpin dan Pimpinan memiliki bawahan atau ada sesuatu yang dipimpinnya. Namun dalam segi pemahamannya memilki makna yang berbeda jauh. Ketika kita berbicara Pemimpin maka akan tercipta sebuah stereotip yang sebenarnya harus berbeda dengan makna Pimpinan.

Pimpinan memiliki pemahaman bahwa seseorang yang ditunjuk untuk memiliki tanggung jawab memimpin oleh karena Pengangkatan, dalam artian bahwa suka atau tidak suka dari bawahannya, ia akan tetap memimpin bawahan-bawahannya tersebut.

Sedangkan Pemimpin adalah seseorang yang ditunjuk untuk memiliki tanggungjawab memimpin oleh karena kodrat alamiahnya sebagai Manusia.

Sebagaimana yang tercantum didalam firman Allah :

“Sesungguhnya Kami sudah kemukakan tanggungjawab amanah (Kami) kepada langit dan bumi serta gunung-gunung (untuk memikulnya), maka mereka enggan memikulnya dan bimbang tidak dapat menyempurnakannya (kerana tidak ada pada mereka persediaan untuk memikulnya); dan (pada ketika itu) manusia (dengan persediaan yang ada padanya) sanggup memikulnya. (Ingatlah) sesungguhnya tabiat kebanyakan manusia adalah suka melakukan kezaliman dan suka pula membuat perkara-perkara yang tidak patut dikerjakan.” – (Surah al-Ahzab, ayat 72)

Di ayat lain Allah juga menjelaskan :

“Kaum lelaki adalah pemimpin dan pengawal yang bertanggungjawab terhadap kaum perempuan, oleh kerana Allah melebihkan lelaki (dengan beberapa keistimewaan) atas perempuan dan kerana lelaki sudah membelanjakan (memberi nafkah) sebahagian dari harta mereka. Maka perempuan salih itu ialah yang taat (kepada Allah dan suaminya) dan yang memelihara (kehormatan dirinya dan apa juga yang wajib dipelihara) ketika suami tidak hadir bersama, dengan pemuliharaan Allah dan pertolongan-Nya. Dan perempuan yang kamu bimbang melakukan perbuatan derhaka (nusyuz) hendaklah kamu menasihati mereka, dan (jika mereka berdegil) pulaukanlah mereka di tempat tidur dan (jika mereka masih degil) pukullah mereka (dengan pukulan ringan yang bertujuan mengajarnya). Kemudian jika mereka taat kepada kamu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkan mereka. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi, lagi Maha Besar.” – (Surah An-Nisa’, ayat 34)

Tidak mudah menghasilkan Pemimpin jika dibandingkan dengan Pimpinan. Seorang pimpinan entah itu mampu atau tidak, mau tidak mau harus memimpin karena ia diangkat meski terkadang dia tidak memiliki jiwa Pemimpin. Namun seorang Pemimpin itu memang layak untuk dicari dan diperjuangkan.

Dengan kata lain :

  1. Pemimpin sudah berarti Pimpinan namun Pimpinan tidak berarti Pemimpin.
  2. Pemimpin diangkat oleh orang-orang yang dipimpinnya karena suka dan kemampuannya sehingga ikhlas saat dipimpin, sedangkan Pimpinan diangkat oleh seseorang atau sekelompok orang yang disebut atasan untuk memenuhi tujuan dan tanggungjawab tertentu, meski orang-orang yang akan dipimpinnya belum tentu menyukainya.

Mari kita coba berfikir sama-sama, Apakah memang sudah banyak Pemimpin di negeri ini, mari kita perhatikan hadist rasulullah saw ini :

“Setiap kalian adalah Pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya. Seorang Imam adalah Pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawabanya, Seorang Suami adalah Pemimpin terhadap keluarganya, dan akan dimintai pertanggungjawabanya, seorang Istri adalah pemimpin dalam rumah suaminya  dan akan dimintai pertanggungjawabanya, Seorang pembantu adalah Pemimpin terhadap harta majikannya, dan akan dimintai pertanggungjawabannya. Setiap kalian adalah Pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawabannya” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Berbicara pimpinan bisa siapa saja untuk memimpin, namun yang harus kita kritisi adalah apakah memang dia pantas jadi Pimpinan atau apa benar ia memiliki jiwa Pemimpin ?. Sebenarnya yang harus kita cari adalah Pemimpin yakni orang-orang yang bertanggungjawab dengan segala kesadarannya untuk menjaga amanah yang diberikan kepadanya, yang berani ambil resiko untuk kepentingan umum meski dirinya sendiri harus menderita. Dan seorang Pemimpin juga seharusnya memiliki kesadaran bahwa masih ada yang lebih tinggi dari nya dan kekuasaan yang lebih luas darinya serta suatu ketika khelak akan dimintakan pertangungjawaban oleh Penguasa yang maha tinggi ini, yaitu Allah subhannahu wata’ala. Masalahnya  masih banyak Pemimpin dari kalangan Muslim sendiri yang kurang atau bahkan tidak memahami kepemimpinan Islami atau paham namun tidak menerapkannya selama masa kepemimpinannya dan cenderung terbuai dengan otoritas dan kemudahan yang dimilikinya.

MUHAMMAD RASULULLAH

Contoh kepemimpinan Ideal yang islami dan sesuai dengan kondisi jaman saat ini adalah kepemimpinan Rasulullah salallahu alaihi wasalam. Begitu banyak contoh-contoh tauladan yang beliau berikan kepada kita yang bisa diterapkan untuk menjadi Pemimpin atau Pimpinan yang ingin memiliki jiwa Pemimpin Ideal. Sebagaimana yang Rasulullah contohkan seorang Pemimpin yang Ideal haruslah memiliki karakter sebagai berikut :

  1. Mempunyai tingkat Religiusitas yang tinggi, ini adalah fungsi kontrol dari seorang Pemimpin bahwa dalam kepemimpinannya ada Pemimpin/ Penguasa tertinggi yang mengawasi dan kelak akan meminta pertanggungjawabannya di alam akhirat nantinya. meski jaminan Surga telah diberikan oleh Allah subhana huwata’ala kepada Rasulullah namun beliau tetap menjalankan Ibadah secara teratur tanpa berkurang sedikitpun. Rasulullah bersabda,”Tidaklah seorang pemimpin yang memegang urusan kaum Muslimin lalu ia tidak bersungguh-sungguh dan tidak menasehati mereka, kecuali pemimpin itu tidak akan masuk surga bersama mereka (rakyatnya).”
  2. Mempunyai tingkat kesabaran yang tinggi, sehingga mampu mengendalikan emosi. Tindakan seorang pemimpin/ Pimpinan tidak boleh dilakukan dengan cara emosional. Efek nya akan sangat fatal apabila melakukannya. Sebagaimana yang rasulullah contohkan saat menghadapi masalah-masalah sulit untuk kepentingan ummat dan demi tegaknya agama Allah ini, Rasulullah menyegerakkan melakukan Shalat sunnah dua raka’at terlebih dahulu sebelum menentukan kebijakannya, sehingga membantu beliau dalam mengambil keputusan, karena efek dari berwudhu dan shalat adalah dapat memberikan rasa tenang dan kepasrahan diri kepada sang Khaliq.
  3. Mempunyai tingkat kepedulian yang tinggi, Peduli terhadap permasalahan yang terjadi baik disekitar kepemimpinan dirinya maupun disekitar orang-orang yang dipimpinnya. Sebagaimana yang sering terjadi pada diri Rasulullah dalam kepemimpinannya, beliau selalu peduli dan mampu menjadi Solving Maker dalam setiap permasalahan yang timbul dikalangan ummat Islam saat itu bahkan kisah-kisah dan perkataan beliau mampu menjawab permasalahan yang timbul di kalangan Ummat Islam hingga saat ini dan hingga akhir masa nantinya. Sabda Rasulullah ; ”Tidaklah seorang pemimpin atau pemerintah yang menutup pintunya terhadap kebutuhan, hajat, dan kemiskinan kecuali Allah akan menutup pintu-pintu langit terhadap kebutuhan, hajat, dan kemiskinannya.” (Riwayat Imam Ahmad dan At-Tirmidzi).
  4. Mempunyai tingkat keadilan yang tinggi, Berlaku adil adalah syarat penting dalam kepemimpinan, bila seorang pemimpin tidak bisa bersikap adil maka olok-olok dan cemo’oh lah yang akan diberikan oleh pengikutnya. Nabiullah Muhammad Salallahu Alaihi Wasalam telah banyak memberikan contoh tentang keadilan ini. Bahkan beliau telah dijuluki ‘Al Amin’ yang artinya jujur dan terpercaya sebelum beliau diangkat menjadi Rosul oleh Allah subhana wa ta’ala. Rasulullah bersabda,”Tidaklah seorang pemimpin mempunyai perkara kecuali ia akan datang dengannya pada hari kiamat dengan kondisi terikat, entah ia akan diselamatkan oleh keadilan, atau akan dijerumuskan oleh kezhalimannya.” (Riwayat Baihaqi dari Abu Hurairah dalam kitab Al-Kabir).
  5. Mempunyai tingkat Pengorbanan yang tinggi, seorang pemimpin sejati bekerja tanpa pamrih dan berjuang demi kemaslahatan orang banyak. Rela mengorbankan waktunya, saat orang-orang yang dipimpinnya sedang terlelap ia masih sibuk bekerja dan berfikir, saat orang-orang yang dipimpinnya masih bersenda gurau dan terlena dengan waktu senggangnya, seorang pemimpin telah sibuk dengan aktivitasnya demi kesejahteraan orang-orang yang dipimpinnya. Sebagaimana Rasulullah tidak pernah meninggalkan shalat malam dan selalu mendo’akan ummatnya baik kepada ummatnya yang saat itu ia pimpin maupun kepada ummat-ummat setelahnya. Bahkan beliau rela melepaskan harta benda miliknya demi kemaslahatan ummat dan demi tegaknya Islam, agama yang hanya di ridho’i oleh Allah subhana wata’ala. Saat beliau wafat pun, beliau masih sempat memikirkan ummatnya. Rasulullah bersabda,” Pemberian hadiah kepada pemimpin adalah pengkhianatan.” (Riwayat Thabrani).
  6. Tegas dan komit dalam mengambil keputusan dan lemah lembut dalam merengkuh kebersamaan, ketegasan adalah yang diinginkan oleh pengikutnya dari seorang pemimpin. Ke-plin-plan-nan seorang pemimpin akan menjerumuskannya pada konflik internal yang berkepanjangan. Rasulullah bersabda,” Jika seorang pemimpin menyebarkan keraguan dalam masyarakat, ia akan merusak mereka.” (Riwayat Imam Ahmad, Abu Dawud, dan Al-hakim). Nabi Muhammad salallahu alaihi wasalam seorang yang lemah lembut meski dia selalu dihina, difitnah bahkan diludahi dan lebih dari itu oleh kaum kafirin. Namun dia akan menjadi orang yang tegas dan komit saat menghadapi kekejian kaum kafirin yang menghina Allah, Agama Islam dan Ummatnya. Begitu pula beliau akan menjadi tegas saat menghadapi kaum Munafik di dalam tubuh Islam itu sendiri.  Doa Rasullullah,’ Ya Allah, barangsiapa mengurus satu perkara umatku lalu ia mempersulitnya, maka persulitlah ia, dan barang siapa yang mengurus satu perkara umatku lalu ia berlemah lembut kepada mereka, maka berlemah lembutlah kepadanya.
  7. Memiliki tanggungjawab yang tinggi, tanggungjawab memiliki hubungan yang erat dengan pengorbanan. Seorang pemimpin yang bertanggungjawab terhadap orang-orang yang dipimpinnya dan terhadap tugas-tugas yang di embannya akan banyak melakukan pengorbanan baik materil maupun moril. Rasulullah salallahu alaihi wasalam rela mengorbankan harta bendanya bahkan rela tinggal di masjid agar bisa mensejahterakan ummatnya. Hendaklah selalu membuka pintu untuk setiap pengaduan dan permasalahan rakyat.Rasulullah bersabda,”Tidaklah seorang pemimpin atau pemerintah yang menutup pintunya terhadap kebutuhan, hajat, dan kemiskinan kecuali Allah akan menutup pintu-pintu langit terhadap kebutuhan, hajat, dan kemiskinannya.” (Riwayat Imam Ahmad dan At-Tirmidzi).
  8. Jujur dan Rendah hati, kejujuran dan rendah hati adalah kunci kesuksesan seorang pemimpin untuk memperoleh kepercayaan dan dukungan dari orang-orang yang dia pimpin. Apabila sekali saja melanggarnya atau berbuat tidak jujur dengan alasan apapun maka bersiap-siaplah untuk jatuh dari kursi kepemimpinannya.  Ambilah kisah-kisah Rasulullah didalam hadist sahih untuk menjadi pegangan dan contoh tauladan apabila anda berada diposisi sebagai seorang Pemimpin dan terapkanlah dalam kehidupan kita sehari-hari. Rasullullah bersabda kepada Abdurrahman bin Samurah Radhiyallahu’anhu,”Wahai Abdul Rahman bin samurah! Janganlah kamu meminta untuk menjadi pemimpin.Sesungguhnya jika kepemimpinan diberikan kepada kamu karena permintaan, maka kamu akan memikul tanggung jawab sendirian, dan jika kepemimpinan itu diberikan kepada kamu bukan karena permintaan, maka kamu akan dibantu untuk menanggungnya.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Ketika kita memasuki system Pemerintahan dalam Alam Demokrasi dimana Filosofi dari sistim Demokrasi ini adalah Dari Rakyat, Oleh Rakyat dan Untuk Rakyat (From People, by People and for People) serta kemenangan mutlak adalah kemenangan Rakyat(People Power). Maka sudah sepantasnya lah kita mencari sosok Pemimpin yang islami untuk menjadi Pimpinan.

Bangsa ini sedang membutuhkan Pemimpin yang memang sesuai dengan pemahaman yang sama yakni akan dimintai pertanggungjawaban.  Tidak ada kata-kata lagi yang harus dikedepankan selain, masihkah kita harus menunggu dipimpin oleh Pimpinan yang tidak memiliki jiwa Pemimpin ? kita harus sama-sama bangkit dari keterpurukan dengan sadar bahwa kita itu Pemimpin.

Seorang Pemimpin harus berani tegakan ‘Amar Ma’ruf nahi munkar’ dan berani untuk menerima keritik, seorang Pemimpin tidak akan berani berkata saya Capek saya mau istirahat ketika memang belum terasa keadilan dan kesejahteraannya oleh Rakyatnya.

Dan Pemimpin itu tidak akan menjual keadilan hanya untuk kepentingan dirinya karena ia sadar bahwa ‘Yasytaruna bi ayatil-lahi tsamanan qalila’, sehingga meski emas sebesar dunia ini diberikan ia tidak akan goyah untuk takut melakukan amar ma’ruf nahi munkar.

Pemimpin itu harus menjadi pendengar setia dan penjaga keadilan untuk kesejahtraan rakyatnya sehingga rakyat menjadi merasa tentram dan akan melakukan yang terbaik karena memang mereka Ikhlas untuk dipimpin.

About these ads
No comments yet

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 710 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: